Perundingan mengenai gencatan senjata antara kelompok Hamas yang berbasis di Gaza, Palestina, dengan Israel dilaporkan semakin mendekati kesepakatan positif di Doha, Qatar, pada Senin (13/1). Proses perundingan ini difasilitasi oleh pihak-pihak seperti Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat (AS).
Presiden AS, Joe Biden, menyatakan bahwa gencatan senjata dan pembebasan para sandera kini hampir terwujud. Hamas juga mengungkapkan niat mereka untuk mencapai kesepakatan tersebut.
“Kesepakatan ini akan membebaskan para sandera, menghentikan pertempuran, memberikan keamanan bagi Israel, serta memungkinkan peningkatan bantuan kemanusiaan yang signifikan untuk warga Palestina yang sangat terdampak akibat perang yang dimulai oleh Hamas,” ujar Biden dalam pidatonya tentang kebijakan luar negeri AS
Biden juga menyebutkan bahwa ia akan berbicara langsung dengan Presiden Mesir, Abdel Fattah el-Sisi, terkait negosiasi tersebut.
Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, turut menyatakan bahwa kesepakatan ini semakin dekat dan berharap bisa tercapai dalam waktu yang tidak lama lagi.
“Ini sangat dekat, dan kami sangat berharap bisa mencapai titik akhir setelah berbulan-bulan upaya,” ujar Blinken,
Penasihat Keamanan Nasional AS, Jake Sullivan, mengatakan bahwa semua pihak kini tengah berusaha keras untuk mencapai kesepakatan ini.
Struktur kesepakatan tersebut mencakup pembebasan tahanan Palestina dan tawanan Israel, serta peningkatan bantuan kemanusiaan.
“Sejak Juni, kami telah bekerja keras untuk mencapai kesepakatan ini. Kami semakin dekat, meskipun ada beberapa rincian yang masih perlu diselesaikan, seperti formula pembebasan tahanan dan jarak pasukan Israel yang terlibat,” kata Sullivan.
Menurutnya, rincian-rincian ini telah dibahas secara intensif selama beberapa bulan terakhir, dan dalam beberapa pekan terakhir, upaya untuk menyelesaikan perundingan ini semakin dipercepat.

Respons Hamas
Sementara itu, delegasi Hamas juga menyatakan bahwa perkembangan perundingan gencatan senjata ini cukup positif. Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan setelah pertemuan dengan Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani di Doha, Hamas menyebutkan bahwa proses negosiasi berjalan dengan baik.
Delegasi Hamas dipimpin oleh pemimpin Hamas di Gaza, Khalil al-Hayya, dan Ketua Dewan Syura, Muhammad Darwish.
Seorang pejabat Israel mengungkapkan bahwa negosiasi kini berfokus pada pembebasan 33 sandera Hamas sebagai langkah awal.
Menurut laporan dari Aljazeera yang mengutip Channel 12, kesepakatan gencatan senjata ini dibagi dalam tiga fase:
Fase pertama, Israel akan membebaskan 50 tahanan Palestina, dengan 30 di antaranya dijatuhi hukuman seumur hidup, yang akan ditukar dengan tentara perempuan Israel. Selain itu, 30 tahanan Palestina yang termasuk dalam kategori tertentu, seperti anak-anak, orang sakit, dan perempuan, juga akan dibebaskan dengan imbalan warga sipil yang ditahan di Gaza. Pada akhir fase pertama, Israel juga akan menarik diri dari Koridor Philadelphi, jalur sempit yang menghubungkan Gaza dan Mesir.
Pada fase kedua, pembicaraan akan berfokus pada pembebasan seluruh tahanan sipil dan tentara yang ditahan.
Fase ketiga akan membahas pengaturan jangka panjang, termasuk rencana untuk pembentukan pemerintahan alternatif di Gaza dan rehabilitasi kawasan tersebut. Israel juga akan mengizinkan satu juta pengungsi Palestina untuk kembali ke Gaza utara, dengan pemeriksaan keamanan yang akan dilakukan oleh badan internasional.
Sumber: www.gelanggangnews.com











