Kyiv, Gelanggang News — Di tengah gemuruh dentuman artileri, bau mesiu yang pekat, dan kepulan asap yang seolah tak pernah reda, satu pemandangan menyentuh hati baru-baru ini terekam kamera media internasional: seorang tentara Ukraina duduk termenung, air matanya jatuh diam-diam ke pipi yang kotor oleh debu dan keringat.
Bukan karena takut akan kematian. Bukan pula karena gentar menghadapi kekuatan militer Rusia yang jauh lebih besar. Air mata itu mengalir karena satu hal yang lebih dalam dan manusiawi: kelelahan jiwa dan raga setelah lebih dari dua tahun bertempur tanpa henti.
Lini Depan yang Tak Pernah Sepi
Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022, perang telah berubah dari pertempuran kilat menjadi konflik berkepanjangan. Garis depan berubah-ubah, tetapi intensitas pertempuran tak pernah benar-benar reda, terlebih di wilayah Donetsk, Luhansk, Zaporizhzhia, dan Kharkiv.
Dalam wawancara dengan beberapa koresponden asing, sejumlah tentara Ukraina mengungkapkan bahwa mereka mengalami depresi ringan hingga berat, gangguan tidur, bahkan kelelahan emosional yang ekstrem.
“Kami bukan robot. Kami tidak bisa selalu kuat. Kadang-kadang kami menangis bukan karena takut, tapi karena kami kelelahan, kami tidak punya waktu untuk berduka atas teman-teman kami yang gugur. Kami harus terus bertempur,” ungkap Serhiy, seorang tentara Ukraina di wilayah Bakhmut, kepada media lokal Ukrainska Pravda.
Kekurangan Personel dan Istirahat
Banyak dari pasukan Ukraina bertugas berbulan-bulan tanpa rotasi. Beberapa batalyon telah kehilangan lebih dari separuh personel awal mereka, digantikan oleh relawan atau wajib militer yang lebih muda dan kurang terlatih.
Kementerian Pertahanan Ukraina menyadari bahwa banyak tentara membutuhkan rehabilitasi psikologis, tetapi karena tekanan dari serangan Rusia yang terus-menerus, prioritas utama tetap mempertahankan garis pertahanan.
“Kami ingin memberi mereka waktu istirahat. Tapi kenyataan di lapangan membuat itu hampir mustahil,” ujar Kolonel Mykola Masiuk, juru bicara militer Ukraina.
Ketegangan Psikologis dan Trauma Berkepanjangan
Psikolog militer memperingatkan bahwa generasi pasca-perang Ukraina akan menghadapi gelombang besar trauma psikologis.
Menurut data dari Ministry of Veterans Affairs of Ukraine, lebih dari 30% tentara aktif saat ini mengalami gejala PTSD (Post Traumatic Stress Disorder). Ini diperparah dengan minimnya akses terhadap layanan konseling profesional, terutama di medan perang.
Bahkan di Kyiv, layanan psikolog veteran kewalahan menangani jumlah pasien yang terus meningkat, termasuk dari kalangan keluarga tentara dan warga sipil yang menjadi korban konflik.
Dukungan Warga Sipil dan Solidaritas yang Tumbuh
Meskipun perang telah menorehkan luka mendalam, rasa solidaritas antarwarga Ukraina justru makin kuat. Banyak warga yang secara sukarela mengirimkan makanan, pakaian hangat, dan bahkan surat-surat berisi doa dan dukungan ke garis depan.
Namun begitu, tentara tetap membutuhkan lebih dari sekadar dukungan moral. Mereka mendesak adanya rotasi yang adil, dukungan logistik yang cukup, dan—terutama—bantuan psikologis untuk memulihkan semangat juang mereka.
Harapan Akan Akhir yang Damai
Mata dunia kini menyoroti perundingan damai yang sempat bergulir di belakang layar antara Ukraina, Rusia, dan beberapa negara mediasi. Namun di medan perang, peluru dan roket masih berbicara lebih keras daripada diplomasi.
Bagi banyak tentara di garis depan, harapan satu-satunya adalah bahwa perang ini segera usai, bukan karena mereka menyerah, tapi karena mereka ingin hidup—bukan hanya bertahan.
“Saya ingin pulang. Bukan untuk istirahat, tapi untuk hidup sebagai manusia normal lagi,” ujar seorang tentara muda, yang baru berusia 21 tahun, sebelum kembali ke parit pertahanannya di Donbas.
Konflik ini belum berakhir. Tapi di balik strategi militer, politik global, dan dominasi media, ada ribuan manusia biasa yang berjuang dalam diam—terkadang dengan senjata, terkadang hanya dengan air mata dan tekad untuk tetap hidup.
Ikuti terus perkembangan konflik Rusia vs Ukraina hanya di www.gelanggangnews.com – berita dari sudut yang tak semua media lihat.

