Pemanfaatan Spektrum 1,4 GHz Diharapkan Bisa Percepat Akses Internet di Indonesia

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyambut positif rencana pemerintah yang akan memanfaatkan pita frekuensi 1,4 GHz untuk teknologi broadband wireless access (BWA). Teknologi ini diyakini dapat meningkatkan kualitas dan jangkauan layanan internet nirkabel yang lebih cepat di Indonesia, khususnya di daerah yang sulit dijangkau oleh infrastruktur kabel.

Menurut Ketua Umum APJII, Muhammad Arif, ketersediaan frekuensi baru ini membuka peluang besar bagi anggota APJII untuk memperluas layanan mereka. Dalam menjalankan operasionalnya, penyelenggara jasa internet sangat bergantung pada jaringan yang ada, dan dengan hadirnya teknologi nirkabel ini, mereka bisa lebih fleksibel dalam menyediakan layanan tanpa perlu mengandalkan infrastruktur fisik yang mahal dan kompleks.

“Dengan adanya kolaborasi ini, kami berharap sektor internet dapat berkembang lebih pesat. Infrastruktur nirkabel yang lebih luas akan memberikan peluang bagi bisnis internet untuk semakin berkembang,” jelas Arif.

Arif juga menjelaskan bahwa BWA tidak akan bersaing langsung dengan penyedia layanan seluler atau internet yang sudah ada. Teknologi ini hanya akan digunakan di wilayah yang belum terjangkau layanan internet, sehingga tidak akan mengganggu pemain lama. Ia melihat kebijakan ini sebagai kesempatan bagi penyedia layanan baru untuk tumbuh di pasar yang masih terbuka.

Pemanfaatan Spektrum 1,4 GHz Diharapkan Bisa Percepat Akses Internet di Indonesia

Saat ini, lebih dari 1.000 perusahaan penyedia layanan internet beroperasi di Indonesia, dengan sebagian besar layanan terkonsentrasi di Pulau Jawa. Teknologi BWA diharapkan dapat membantu mengatasi ketimpangan tersebut dengan memberikan akses internet yang lebih luas ke daerah-daerah yang kurang terlayani.

Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkapkan rencana untuk mengalokasikan frekuensi 1,4 GHz bagi BWA, dengan total spektrum yang akan dialihkan sebesar 80 MHz. BWA merupakan teknologi nirkabel berkecepatan tinggi yang dapat menjangkau area yang lebih luas, dan termasuk dalam kategori teknologi seperti Wi-Fi, WiMAX, serta 4G/5G.

Meski teknologi BWA memiliki potensi besar, Arif menekankan bahwa teknologi ini seharusnya hanya digunakan untuk melayani daerah yang belum terjangkau, dan bukan sebagai pengganti atau pesaing dari layanan internet yang sudah ada.

Komdigi juga mencatat tantangan besar dalam meningkatkan layanan Fixed Broadband (FBB) di Indonesia, yang hanya mencapai 21,31% penetrasi di sekitar 69 juta rumah tangga. Selain itu, harga internet dengan kecepatan tinggi masih tergolong mahal, terutama di daerah-daerah rural dan sub-urban, karena biaya tinggi yang dibutuhkan untuk membangun jaringan Fiber Optic.

Melalui kebijakan baru ini, pemerintah berharap bisa membuka akses internet lebih merata ke seluruh wilayah Indonesia, sekaligus menurunkan biaya layanan agar semakin banyak masyarakat yang dapat menikmati internet dengan kecepatan tinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *