Gelanggang News – Di tengah ketegangan geopolitik yang belum mereda di kawasan Eropa Timur, militer Rusia kembali unjuk kekuatan, kali ini melalui latihan tempur gabungan bersama sekutunya, Belarus. Latihan yang digelar di wilayah perbatasan Belarus-Rusia ini merupakan bagian dari respons strategis terhadap meningkatnya kehadiran militer NATO di sekitar perbatasan barat Rusia.
Latihan gabungan yang diberi nama “Perisai Persatuan 2025” (Union Shield 2025) tersebut dimulai sejak awal September dan diproyeksikan berlangsung selama dua pekan. Dalam latihan ini, kedua negara mengerahkan ribuan personel, kendaraan lapis baja, artileri berat, helikopter tempur, hingga sistem pertahanan udara canggih seperti S-400 dan Pantsir-S1.
Latihan Militer Berskala Besar
Kementerian Pertahanan Rusia menyebut latihan ini sebagai salah satu manuver militer terbesar di kawasan sejak invasi ke Ukraina dimulai pada 2022. Tidak hanya memperkuat hubungan militer bilateral, latihan ini juga menjadi pesan simbolik terhadap Barat.
“Latihan ini bukan hanya simulasi perang, melainkan demonstrasi kesiapan tempur dan kekompakan antara Rusia dan Belarus dalam menghadapi potensi ancaman eksternal,” ujar Juru Bicara Kemenhan Rusia.
Latihan mencakup operasi darat, pertahanan udara, simulasi serangan rudal, dan penanganan konflik hibrida. Beberapa sesi dilakukan di malam hari untuk melatih kemampuan pertempuran dalam kondisi minim cahaya dan visibilitas rendah.
Belarus sebagai Mitra Strategis
Kehadiran militer Belarus dalam latihan ini mencerminkan kedekatan politik dan militer antara Presiden Vladimir Putin dan Presiden Alexander Lukashenko. Belarus kini menjadi sekutu utama Rusia di kawasan Eropa Timur, terutama sejak negara itu mengizinkan Moskow menempatkan pasukan dan senjata strategis di wilayahnya.
Belarus juga sempat mengizinkan penggunaan wilayahnya sebagai titik masuk bagi pasukan Rusia saat awal invasi ke Ukraina pada Februari 2022. Sejak saat itu, hubungan kedua negara semakin erat, termasuk dalam koordinasi intelijen, logistik, dan pengembangan sistem pertahanan gabungan.
Reaksi Internasional
Latihan ini sontak mendapat sorotan tajam dari negara-negara anggota NATO, khususnya yang berbatasan langsung dengan Belarus seperti Polandia dan Lituania. NATO menilai latihan tersebut dapat memicu ketegangan baru dan memperkeruh stabilitas regional.
Beberapa analis menyebut bahwa latihan “Perisai Persatuan 2025” juga menjadi sinyal bahwa Rusia tengah memperkuat front Eropa Timur sebagai penyeimbang tekanan Barat di Ukraina.
“Latihan ini menunjukkan bahwa Rusia tidak beroperasi sendirian. Mereka membentuk poros militer baru di wilayah Timur,” ungkap seorang pakar hubungan internasional dari Berlin.
Taktik dan Peralatan Canggih Dipamerkan
Selain jumlah personel, latihan ini juga menjadi ajang demonstrasi teknologi militer Rusia. Di antaranya, kendaraan lapis baja terbaru BMP-3, rudal Iskander, serta drone pengintai dan serang yang sebelumnya digunakan di medan tempur Ukraina.
Latihan ini juga menampilkan uji kemampuan tempur unit pasukan elite VDV (Pasukan Lintas Udara Rusia), termasuk simulasi penyusupan cepat dan penguasaan wilayah strategis.
Untuk informasi terbaru dan analisis mendalam seputar konflik global, strategi militer, dan aliansi pertahanan internasional, kunjungi:
👉 www.gelanggangnews.com

