GELANGGANGNEWS.com – Washington, D.C. Pemerintah Amerika Serikat kembali mengerahkan personel militer ke perbatasan selatan untuk memperkuat pengamanan terhadap gelombang imigran ilegal yang terus meningkat dari wilayah Amerika Tengah dan Selatan. Langkah ini dilakukan menyusul laporan lonjakan tajam kedatangan migran melalui Meksiko, yang disebut mencapai angka tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Presiden Joe Biden melalui perintah eksekutifnya meminta Departemen Pertahanan (Pentagon) menyiapkan ratusan personel untuk membantu agen Customs and Border Protection (CBP) dalam pengawasan dan pendeteksian dini di wilayah perbatasan Texas, Arizona, dan California.
Fokus Bukan pada Perang, Tapi Dukungan Logistik
Meski dikerahkan, militer AS tidak ditugaskan untuk melakukan penegakan hukum langsung. Peran mereka lebih difokuskan pada dukungan logistik, pemantauan udara menggunakan drone, serta pembangunan infrastruktur sementara seperti tenda dan pos pemeriksaan.
Juru Bicara Pentagon, Mayor General Patrick Ryder, menegaskan bahwa keterlibatan militer hanya bersifat mendukung otoritas sipil.
“Pasukan kami tidak akan berhadapan langsung dengan imigran. Mereka bertugas mendukung misi pengawasan dan pengendalian wilayah untuk meringankan beban CBP yang saat ini kekurangan tenaga,” ujarnya dalam konferensi pers, Selasa (22/7).
Imigran Meningkat, Penyelundupan Narkoba Ikut Naik
Peningkatan jumlah migran tak hanya memicu krisis kemanusiaan, tetapi juga memperbesar celah bagi penyelundupan narkoba dan perdagangan manusia. Laporan dari Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) menunjukkan adanya peningkatan 34% dalam upaya penyelundupan fentanil dan methamphetamine selama kuartal kedua tahun 2025.
Sejumlah pakar menilai bahwa kondisi ini menjadi tantangan ganda bagi pemerintahan Biden, yang di satu sisi ingin menjaga citra kemanusiaan, namun juga harus menjamin keamanan nasional menjelang pemilu presiden 2026.
Kritik dan Respons Publik
Kebijakan pengerahan militer ini memicu beragam reaksi. Kelompok progresif mengkritik keputusan tersebut sebagai langkah yang mendorong militerisasi wilayah sipil, sementara kubu konservatif menganggap langkah Biden masih terlalu lemah dalam menghadapi “invasi imigran”.
Gubernur Texas, Greg Abbott, bahkan menuding pemerintah pusat lamban dan menyatakan akan tetap menggunakan Garda Nasional negara bagian serta membangun penghalang sendiri jika diperlukan.
“Kami tidak bisa duduk diam menunggu Washington. Negara bagian Texas akan bertindak demi melindungi rakyatnya,” tegas Abbott.
Biden Didesak Reformasi Imigrasi Menyeluruh
Di tengah tekanan berbagai pihak, Presiden Biden kembali menyuarakan pentingnya reformasi imigrasi menyeluruh, termasuk peningkatan anggaran bagi CBP, penyederhanaan proses suaka, serta pemberian jalur legal bagi pencari suaka yang benar-benar membutuhkan perlindungan.
Namun, polarisasi politik di Kongres membuat rancangan undang-undang reformasi ini belum kunjung disahkan.
Pantau terus perkembangan berita seputar kebijakan imigrasi global, pertahanan nasional, dan dinamika geopolitik hanya di www.gelanggangnews.com.
Berita tajam, terpercaya, dan mendalam dari berbagai penjuru dunia, hadir untuk Anda.











