MbS Kecam Keras Usulan Netanyahu Soal Pemindahan Warga Palestina ke Saudi

Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MbS), dengan tegas menolak gagasan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang mengusulkan agar warga Palestina dipindahkan ke Arab Saudi untuk membangun negara di sana.

Dalam rapat kabinet yang digelar pada Selasa (11/2), MbS kembali menegaskan bahwa Arab Saudi berdiri di sisi Palestina dan menolak setiap bentuk pemindahan paksa rakyat Palestina dari tanah mereka.

“[Kerajaan Saudi menegaskan] penolakan tegas terhadap pernyataan ekstremis Israel yang mengusulkan pemindahan paksa warga Palestina,” demikian pernyataan resmi yang dikutip dari Al Jazeera.

Pemerintah Saudi juga menegaskan bahwa satu-satunya jalan menuju perdamaian di Timur Tengah adalah melalui solusi dua negara, yang menjamin hak rakyat Palestina untuk tetap tinggal di tanah air mereka.

“Kerajaan menegaskan bahwa rakyat Palestina memiliki hak atas tanah mereka sendiri, dan mereka bukanlah imigran yang bisa diusir kapan saja sesuai kehendak pendudukan brutal Israel,” demikian pernyataan resmi yang dikutip dari Saudi Press Agency.

Selain itu, Saudi juga kembali menegaskan bahwa perjuangan Palestina tetap menjadi isu utama bagi Kerajaan.

MbS Kecam Keras Usulan Netanyahu Soal Pemindahan Warga Palestina ke Saudi

Kecaman dari Negara-Negara Arab

Usulan Netanyahu yang menyarankan agar Palestina membangun negara di wilayah Arab Saudi telah memicu kemarahan di berbagai negara Arab, termasuk Mesir, Uni Emirat Arab, dan Palestina.

Dalam pernyataan resminya, pemerintah Mesir mengecam keras pernyataan Netanyahu, menyebutnya sebagai tindakan tidak bertanggung jawab dan tidak dapat diterima.

“Keamanan dan stabilitas Arab Saudi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari keamanan dan stabilitas Mesir serta negara-negara Arab lainnya, dan hal ini tidak bisa dikompromikan,” demikian pernyataan resmi Mesir.

Sementara itu, Palestina masih berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan akibat serangan Israel sejak Oktober 2023. Agresi militer tersebut telah menyebabkan kehancuran besar-besaran terhadap infrastruktur sipil dan menewaskan lebih dari 48.000 orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *