Ruang Berita Terpercaya untuk Anda

Lelah Menunggu Perbaikan, Warga Mesidah Bener Meriah Swadaya Tambal Jalan Rusak Parah

ByAdmin Gelanggang

Apr 17, 2026

GelanggangNews – BENER MERIAH – Warga di Kecamatan Mesidah, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, mulai memperbaiki beberapa titik jalan yang rusak parah secara swadaya. Langkah ini diambil karena di sejumlah titik, kondisi badan jalan sangat berisiko untuk dilalui, baik oleh kendaraan roda dua maupun roda empat.

“Wah, parah sekali kerusakannya, payah bilanglah. Kami warga sini kadang kewalahan melintas di jalan itu,” kata Aman Gawa, salah satu tokoh masyarakat, saat ditemui pada Kamis (16/4/2026).

Aman Gawa menjelaskan bahwa jalan tersebut merupakan jalur vital bagi 15 desa yang tersebar di Kecamatan Mesidah. Ratusan warga melintasi jalur tersebut setiap harinya, mulai dari petani, tenaga pendidik, hingga tenaga kesehatan.

Inisiatif Donasi dan Gotong Royong

Tidak ingin larut dalam rasa cemas, warga berinisiatif melakukan perbaikan jalan secara mandiri. Berdasarkan kesepakatan bersama, penggalangan dana (open donation) mulai dibuka sejak 26 Maret 2026.

Donasi terus mengalir tidak hanya dari warga setempat, tetapi juga dari tenaga kesehatan (nakes), guru, pegawai kecamatan, serta petani dari kecamatan lain yang memiliki perkebunan di wilayah tersebut.

“Sepertinya para nakes, guru, dan pegawai juga sudah tidak tahan lagi dengan kondisi jalan yang amat jauh dari kata layak,” tutur Aman Gawa. Ia menambahkan bahwa para nakes dan guru sering terjatuh dari sepeda motor, terutama saat musim hujan, sehingga mereka terpaksa melintasi rute alternatif Jalan Samar Kilang dengan waktu tempuh yang jauh lebih lama.

Perbaikan di Lima Titik

Saat ini, terdapat lima titik jalan rusak yang akan diperbaiki secara swadaya. Titik-titik tersebut tersebar di Kampung Cemparam Lama (dua titik), Cemparam Pakat Jeroh (dua titik), dan Kampung Jamur Atu (satu titik).

“Hari ini mulai kami kerjakan satu titik di Kampung Cemparam Lama. Semoga empat lainnya bisa rampung juga dalam waktu dekat,” ucap salah seorang warga.

Kendala Distribusi dan Harga Material

Kendala utama yang dihadapi warga adalah distribusi material yang memakan waktu lama. Hal ini disebabkan oleh terputusnya jembatan permanen Weh Kanis akibat bencana hidrometeorologi tahun lalu, sehingga akses kendaraan roda empat putus total. Mobil pengangkut material seperti pasir dan batu pun terpaksa melalui jalur alternatif yang memutar.

Selain itu, harga material mengalami kenaikan yang signifikan. Jika sebelumnya harga berkisar antara Rp700.000 hingga Rp800.000 per truk, kini harganya melonjak hingga Rp1.300.000 per truk.

“Walaupun demikian, donasi terus mengalir. Insyaallah, dengan harga material yang tinggi pun tetap bisa dikerjakan. Jembatan bambu Weh Kanis itu sendiri sampai sekarang belum diperbaiki, padahal sudah viral dan beberapa kali hampir memakan korban,” pungkasnya.