Ruang Berita Terpercaya untuk Anda

Korea Utara Kirim Ribuan Pekerja ke Rusia, Diduga untuk Atasi Krisis Tenaga Kerja

ByAdmin Gelanggang

Feb 11, 2025

Dinas Intelijen Nasional Korea Selatan (NIS) melaporkan bahwa Korea Utara telah mengirim ribuan pekerja ke Rusia sepanjang tahun 2024. Menurut laporan yang dirilis pada Minggu (9/2), para pekerja tersebut dikirim untuk bekerja di berbagai proyek konstruksi di berbagai wilayah Rusia. Jumlah ini mengalami peningkatan dibandingkan perkiraan sebelumnya yang muncul pada Oktober 2024.

Berdasarkan data dari NIS, sekitar 4.000 pekerja asal Korea Utara diyakini telah berada di Rusia. Mereka diperkirakan menerima gaji sekitar US$800 (Rp12,6 juta) per bulan.

Mantan Duta Besar Korea Selatan untuk Rusia, Wi Sung-lac, mengungkapkan bahwa pengiriman pekerja Korea Utara ke Rusia kemungkinan dilakukan untuk mengisi kekosongan tenaga kerja di sektor konstruksi. Kekurangan ini disebabkan oleh invasi Rusia ke Ukraina yang masih berlangsung.

“Saya menduga pekerja Korea Utara direkrut sebagai pengganti tenaga kerja Rusia yang telah direkrut untuk keperluan militer,” ujar Wi kepada The Korea Herald.

Sebelum diterapkannya sanksi internasional, jumlah pekerja Korea Utara yang dikirim ke luar negeri mencapai puluhan ribu. Namun, saat ini pengiriman tenaga kerja seharusnya tidak diperbolehkan karena adanya larangan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Pelanggaran terhadap Sanksi PBB

Pengiriman tenaga kerja Korea Utara ke luar negeri melanggar Resolusi Dewan Keamanan PBB 2375, yang secara tegas melarang pemberian izin kerja bagi warga Korea Utara di luar negeri. Resolusi ini juga mengharuskan semua pekerja Korea Utara yang berada di luar negeri untuk kembali ke negaranya sebelum akhir Desember 2019.

Namun, Korea Utara dan Rusia diduga menyiasati larangan ini dengan menggunakan visa pelajar atau berbagai celah hukum lainnya untuk tetap mengirim tenaga kerja ke Rusia.

Korea Utara Kirim Ribuan Pekerja ke Rusia, Diduga untuk Atasi Krisis Tenaga Kerja

Keterlibatan Militer Korea Utara di Rusia

Sementara itu, NIS masih belum dapat mengonfirmasi pernyataan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang pada 7 Februari lalu mengklaim bahwa pasukan Korea Utara telah kembali ke garis depan di wilayah Kursk, Rusia, yang berbatasan langsung dengan Ukraina.

Pada Januari lalu, NIS melaporkan bahwa pasukan Korea Utara tampaknya sempat ditarik dari Kursk, diduga karena mengalami kerugian besar dalam pertempuran. Laporan per Januari 2024 menyebutkan sedikitnya 300 tentara Korea Utara tewas, sementara 2.700 lainnya mengalami luka-luka.

Sejak Oktober 2024, NIS memperkirakan sekitar 11.000 tentara Korea Utara telah dikirim ke Rusia untuk membantu dalam konflik di Ukraina. Setiap tentara Korea Utara yang bertugas di Rusia dilaporkan menerima bayaran sekitar US$2.000 (Rp31,6 juta) per bulan.

Pengiriman tenaga kerja dan dugaan keterlibatan militer Korea Utara di Rusia semakin memperkuat hubungan antara kedua negara. Langkah ini juga menunjukkan bahwa Korea Utara terus mencari cara untuk menghindari sanksi internasional sambil memperoleh keuntungan ekonomi dari kemitraan strategis dengan Moskow.