Jakarta, GELANGGANG NEWS – Fenomena kopi susu laris manis di kalangan anak muda dan pelaku industri minuman kekinian mendorong lonjakan signifikan pada produksi gula aren RI. Bahkan, menurut data dari Kementerian Pertanian dan Asosiasi Petani Gula Aren Nusantara, terjadi peningkatan produksi hingga 1.000 kali lipat dalam satu dekade terakhir.
Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya permintaan pasar terhadap pemanis alami yang lebih sehat dibandingkan gula pasir. Gula aren, yang menjadi bahan utama dalam banyak varian kopi kekinian, kini tidak hanya menjadi komoditas lokal, tetapi juga mulai dilirik pasar ekspor, terutama ke negara-negara Asia dan Eropa.
Dalam laporan terbaru Kementan, produksi gula aren nasional pada tahun 2013 masih berkisar 200 ton per bulan. Namun, pada pertengahan 2025, angka ini melonjak drastis hingga mencapai lebih dari 200.000 ton per bulan. Kementerian menyebut tren kopi susu laris manis sebagai salah satu pendorong utama di balik lonjakan tersebut.
“Minuman seperti es kopi susu, kopi gula aren, hingga varian latte modern telah menciptakan pasar baru bagi gula aren sebagai bahan pemanis. Ini membuka peluang besar bagi petani dan UMKM pengolah gula aren,” ujar Direktur Jenderal Perkebunan, Andi Nur Alam Syah.
Selain dari sektor kuliner, tren gaya hidup sehat turut memperkuat permintaan. Banyak konsumen yang mulai beralih ke produk kopi susu dengan gula aren karena dianggap lebih alami dan memiliki indeks glikemik yang lebih rendah.

Kehadiran brand-brand besar dan jaringan kafe lokal yang mengusung konsep lokalitas juga turut mempercepat penyebaran tren ini. Hal ini membuat kopi susu laris manis bukan hanya gaya hidup, tetapi turut menciptakan dampak ekonomi yang nyata bagi sektor hulu pertanian, khususnya petani nira di pedesaan.
Menurut Ketua Umum Gabungan Petani Gula Aren Indonesia, saat ini lebih dari 80.000 petani telah terlibat dalam rantai pasok produksi gula aren. Lonjakan ini tak hanya membuka lapangan kerja baru, tetapi juga meningkatkan nilai tambah produk pertanian lokal yang sebelumnya kurang diperhatikan.
Meski begitu, sejumlah tantangan masih menghadang, seperti kualitas produk yang bervariasi, kurangnya teknologi pengolahan, dan keterbatasan akses ke pasar ekspor. Oleh karena itu, pemerintah berencana mengembangkan pusat pelatihan dan pengolahan gula aren terpadu di beberapa sentra produksi.
Dengan tren kopi susu laris manis yang belum menunjukkan tanda-tanda penurunan, pelaku industri optimistis bahwa produksi gula aren RI akan terus tumbuh. Bahkan, beberapa analis memprediksi bahwa dalam lima tahun ke depan, Indonesia bisa menjadi eksportir utama gula aren di Asia Tenggara.
Untuk berita terkini seputar pertanian, pangan, dan tren gaya hidup, kunjungi kami di www.gelanggangnews.com.
