Ruang Berita Terpercaya untuk Anda

Kataeb Hezbollah Siaga, Pasukan Kuat Irak Siap Bantu Iran Hadapi Perang Panjang Lawan AS

ByAdmin Gelanggang

Feb 28, 2026

GelanggangNews – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat setelah kelompok bersenjata Irak yang didukung Teheran, Kataeb Hezbollah, menyatakan kesiapan menghadapi kemungkinan perang panjang di kawasan.

Dalam pernyataan resmi pada Kamis (26/2/2026), Kataeb Hezbollah memerintahkan seluruh personelnya untuk bersiap menghadapi eskalasi militer yang dinilai semakin berbahaya.

“Di tengah ancaman Amerika dan peningkatan kekuatan militer yang menunjukkan eskalasi berbahaya di wilayah tersebut, perlu bagi semua personel untuk bersiap menghadapi potensi gesekan perang yang panjang,” demikian bunyi pernyataan kelompok itu, dikutip dari kantor berita AFP.

Ancaman Kerugian Besar bagi Washington

Peringatan tersebut diarahkan langsung kepada Washington dengan ancaman potensi “kerugian besar” apabila perang benar-benar pecah. Seorang komandan dalam faksi bersenjata kuat tersebut mengatakan kepada AFP bahwa kelompoknya sangat mungkin akan campur tangan apabila Iran diserang.

Komandan itu menegaskan bahwa pihaknya memandang Iran sebagai elemen strategis bagi kepentingan mereka sendiri. Menurutnya, setiap serangan terhadap negara tersebut akan secara langsung mengancam keberadaan mereka.

Perubahan Sikap dan Eskalasi Regional

Sikap ini menandai kemungkinan perubahan pendekatan dibandingkan konflik sebelumnya. Kelompok-kelompok bersenjata Irak yang dikenai sanksi AS tidak terlibat dalam perang 12 hari antara Israel dan Iran tahun lalu. Namun, kali ini komandan tersebut menyatakan bahwa sikap mereka bisa berbeda.

Ia menegaskan bahwa kelompoknya tidak akan menahan diri, terutama apabila serangan AS bertujuan menggulingkan rezim di Teheran. Selama berbulan-bulan dalam perang Israel-Hamas di Gaza, kelompok yang didukung Iran ini telah melancarkan serangan terhadap pasukan AS di kawasan tersebut.

Kelompok-kelompok yang didukung Iran diketahui menjadi bagian dari “Poros Perlawanan”, sebuah aliansi yang mencakup Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza, serta kelompok Houthi di Yaman. Pekan ini, seorang pejabat Hizbullah mengatakan kepada AFP bahwa pihaknya tidak akan campur tangan secara militer apabila terjadi serangan terbatas dari AS terhadap Iran. Meski demikian, Hizbullah menganggap setiap serangan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sebagai “garis merah”.

Tekanan Militer dan Jalur Diplomasi

Di tengah situasi tersebut, Presiden AS Donald Trump telah mengerahkan kapal perang dan jet tempur di dekat wilayah Iran. Langkah itu dilakukan untuk mendukung ancaman serangan apabila negosiasi terkait program nuklir Iran gagal mencapai kesepakatan.

Pada Kamis, negosiator AS dan Iran menggelar putaran ketiga pembicaraan. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan kepada televisi pemerintah bahwa pembicaraan tersebut mengalami kemajuan yang sangat baik