Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tajam sepanjang pekan perdagangan 16–20 Juni 2025. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global mendorong investor global melepas aset berisiko, termasuk di pasar saham Indonesia. Akibatnya, IHSG turun sebesar 3,6 persen, dari level 7.166 menjadi 6.907, dan nilai kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) anjlok sebesar Rp396 triliun, dari Rp12.495 triliun menjadi Rp12.099 triliun.
Investor asing turut mencatat aksi jual bersih (net sell) senilai Rp2,73 triliun selama sepekan terakhir. Sejak awal tahun, total net sell asing telah mencapai Rp53,1 triliun, memperparah tekanan pada pasar. Rata-rata nilai transaksi harian ikut melemah 7,6 persen menjadi Rp15,01 triliun, sementara volume dan frekuensi perdagangan masing-masing turun 13 persen dan 8,1 persen, yakni ke 24,4 miliar saham dan 1,31 juta transaksi per hari.
Tekanan utama datang dari konflik Iran–Israel–AS yang makin memanas. Pasar mencermati risiko penutupan Selat Hormuz, jalur penting distribusi sekitar 20–30 persen perdagangan minyak dunia. Jika konflik meluas dan jalur ini terganggu, harga minyak mentah diperkirakan bisa melonjak hingga 30 persen, yang akan mendorong tekanan inflasi global dan memperberat beban ekonomi negara berkembang seperti Indonesia.
Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed. Ketua Federal Reserve Jerome Powell belum memberi sinyal penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Dengan inflasi AS yang masih tinggi, ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama membuat investor cenderung menarik dananya dari pasar negara berkembang.
Analis dari MNC Sekuritas memperkirakan IHSG berpeluang menguat secara teknikal dalam jangka pendek menuju kisaran 6.950–7.050, sementara Profina Visindo Sekuritas memperkirakan indeks akan bergerak terbatas dalam rentang 6.800–7.100. Di tengah situasi ini, investor disarankan fokus pada saham-saham dari sektor komoditas seperti MEDC dan ANTM, serta sektor konsumer dan telekomunikasi seperti MYOR, SIDO, dan TLKM yang dianggap lebih tahan terhadap guncangan eksternal. Sebaliknya, saham dari sektor perbankan, properti mewah, dan logistik disarankan untuk dihindari karena lebih rentan terhadap tekanan suku bunga dan fluktuasi nilai tukar.
Pergerakan IHSG ke depan masih sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik dan arah kebijakan bank sentral global. Pelaku pasar perlu mencermati dinamika eksternal ini dan menyesuaikan strategi investasi agar tetap defensif namun tetap siap menangkap peluang.
Ikuti berita ekonomi dan pasar modal terkini hanya di:
https://gelanggangnews.com/

