Gaza, GELANGGANG NEWS — Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, kembali menegaskan sikapnya terkait konflik berkepanjangan dengan Israel. Dalam pernyataan resminya, Hamas tegas tolak serahkan senjata sebelum Palestina merdeka, menegaskan bahwa perlucutan senjata hanya akan dipertimbangkan setelah terbentuknya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat penuh.
Pernyataan tersebut muncul di tengah pembicaraan damai yang kembali diupayakan oleh berbagai pihak internasional, termasuk Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat. Namun, Hamas bersikukuh bahwa upaya perdamaian harus menjamin kemerdekaan Palestina secara menyeluruh, termasuk di Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur.
Menurut juru bicara Hamas, Abu Obaida, perjuangan bersenjata adalah bagian sah dari perlawanan terhadap penjajahan. Ia menyatakan bahwa “tidak akan ada kompromi terkait senjata perlawanan” selama wilayah Palestina belum dibebaskan secara penuh. Ia menambahkan, Hamas tegas tolak serahkan senjata sebelum Palestina merdeka sebagai bentuk perlindungan terhadap rakyat dan tanah air mereka.
Langkah tegas ini mendapat reaksi beragam dari komunitas internasional. Beberapa negara Barat menganggap keberadaan senjata kelompok bersenjata sebagai hambatan utama dalam proses perdamaian. Namun, bagi sebagian pihak, sikap Hamas mencerminkan ketidakpercayaan yang mendalam terhadap proses negosiasi yang dianggap sering berat sebelah dan tidak memberi hasil konkret bagi rakyat Palestina.
Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, pihak Israel telah menyatakan bahwa perlucutan senjata dari kelompok seperti Hamas menjadi prasyarat utama dalam gencatan senjata jangka panjang. Namun, bagi Hamas, permintaan itu dianggap sebagai upaya melemahkan posisi tawar Palestina di meja perundingan.

Isu Hamas tegas tolak serahkan senjata sebelum Palestina merdeka juga menjadi sorotan dalam pertemuan Liga Arab baru-baru ini. Beberapa negara anggota mendesak pendekatan politik yang inklusif tanpa mengabaikan aspirasi kelompok perlawanan. Mereka menekankan pentingnya konsensus nasional antarfraksi Palestina dalam menyikapi isu perundingan damai dan kemerdekaan.
Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Dr. Lina Fathia, menilai bahwa senjata dalam konteks perlawanan Palestina memiliki dimensi simbolis dan strategis. “Selama belum ada jaminan internasional yang kuat mengenai kemerdekaan Palestina, tuntutan agar Hamas menyerahkan senjatanya tidak akan realistis,” ujarnya.
Dengan ketegangan yang belum mereda di Gaza dan perundingan yang masih stagnan, prospek perdamaian jangka panjang tetap belum pasti. Namun, satu hal yang jelas: Hamas tegas tolak serahkan senjata sebelum Palestina merdeka, dan sikap ini tampaknya tidak akan berubah dalam waktu dekat.
Untuk perkembangan berita Timur Tengah dan konflik Palestina-Israel lainnya, kunjungi www.gelanggangnews.com.

