Ruang Berita Terpercaya untuk Anda

Gempa Dahsyat Tak Mampu Redam “Nafsu” Rusia untuk Serang Ukraina

ByAdmin Gelanggang

Aug 1, 2025

KYIV – Saat Rusia masih bergulat dengan bencana alam besar di dalam negerinya, agresi militernya terhadap Ukraina terus berlangsung tanpa henti. Pada Kamis, 31 Juli 2025, Rusia kembali meluncurkan serangan udara skala besar ke ibu kota Ukraina, Kyiv, menggunakan rudal balistik dan drone kamikaze yang diarahkan ke wilayah permukiman padat penduduk.

Serangan tersebut menyebabkan kehancuran hebat, menewaskan sedikitnya enam orang, termasuk seorang anak laki-laki berusia 6 tahun, serta melukai lebih dari 50 orang lainnya. Korban luka dilaporkan mengalami cedera serius akibat ledakan, pecahan bangunan, dan kebakaran pasca-serangan.

Gambar Tragis dari Lokasi Kejadian

Gambar dan video dari lokasi memperlihatkan asap hitam membubung tinggi, bangunan luluh lantak, dan warga sipil berlarian menyelamatkan diri. Tim penyelamat dan pemadam kebakaran Ukraina langsung dikerahkan untuk mengevakuasi korban yang tertimbun reruntuhan dan memadamkan api dari bangunan yang terbakar.

“Saya mendengar dua ledakan keras, lalu jendela rumah kami pecah. Saya keluar dan melihat anak-anak berteriak minta tolong,” ujar seorang saksi mata di distrik Sviatoshynskyi, Kyiv.

Serangan di Tengah Musibah Domestik Rusia

Ironisnya, serangan ini dilakukan saat Rusia sendiri tengah dilanda bencana alam. Dalam sepekan terakhir, gempa bumi dan banjir bandang besar melanda kawasan timur Rusia, menewaskan puluhan warga dan menghancurkan infrastruktur vital.

Situasi tersebut membuat banyak pihak mempertanyakan prioritas moral pemerintah Rusia, yang tetap memilih melanjutkan operasi militer ofensif ketimbang fokus pada penanganan warganya sendiri yang terdampak bencana.

Kecaman Global Meningkat

Pemerintah Ukraina menyebut serangan tersebut sebagai “kejahatan perang”, mengingat tidak ada instalasi militer di sekitar lokasi serangan. Presiden Volodymyr Zelenskyy menyampaikan pernyataan tegas melalui media sosial:

“Rudal Rusia menargetkan anak-anak dan keluarga di rumah mereka sendiri. Ini adalah bukti nyata bahwa Kremlin tidak peduli pada nyawa manusia dan tidak menginginkan perdamaian,” tulis Zelenskyy.

Sementara itu, beberapa negara Eropa, termasuk Jerman dan Prancis, kembali mengecam tindakan Rusia dan menyerukan agar Dewan Keamanan PBB menggelar sidang darurat.

Dampak Serangan: Listrik Padam dan Rumah Sakit Penuh

Akibat serangan ini, beberapa wilayah di Kyiv mengalami pemadaman listrik dan gangguan layanan air bersih. Sejumlah rumah sakit melaporkan lonjakan pasien luka-luka, dan persediaan darah serta obat-obatan disebut menipis.

Organisasi kemanusiaan seperti Palang Merah Ukraina dan Doctors Without Borders telah mengirimkan tim tambahan untuk membantu proses evakuasi dan penanganan medis darurat.

“Kami meminta seluruh dunia tidak diam terhadap tragedi yang berulang ini. Warga sipil tidak boleh menjadi sasaran,” kata perwakilan Palang Merah Ukraina dalam siaran persnya.

Situasi Semakin Tak Menentu

Serangan ini terjadi di tengah kebuntuan diplomatik antara Moskow dan Kyiv, serta ketegangan yang terus meningkat di kawasan Eropa Timur. Di sisi lain, dukungan militer dan kemanusiaan dari negara-negara Barat kepada Ukraina juga terus mengalir, namun belum mampu menghentikan agresi Rusia yang kini sudah memasuki tahun ketiga.

Simak perkembangan konflik Rusia-Ukraina dan berita dunia lainnya hanya di:
🔗 www.gelanggangnews.com