Eskalasi di Tengah Gencatan Senjata: Serangan Tanpa Peringatan Israel Sasar Pemukiman dan Kamp Pengungsian Gaza

GelanggangNews – GAZA – Harapan warga Gaza untuk mendapatkan ketenangan di bawah payung gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat kembali pupus. Dalam kurun waktu beberapa jam terakhir, militer Israel meluncurkan serangkaian serangan udara dan darat yang menyasar jantung pemukiman warga serta kamp-kamp darurat di berbagai titik Jalur Gaza, tanpa didahului peringatan evakuasi sebagaimana protokol keselamatan warga sipil.

Tragedi di Tengah Reruntuhan dan Tenda

Serangan yang terjadi pada Kamis (5/2/2026) ini menyisakan duka mendalam di wilayah Utara dan Selatan. Di Kota Gaza, lingkungan Tuffah dan Zeitoun menjadi sasaran langsung di mana sedikitnya 14 orang dilaporkan tewas, dengan mayoritas korban merupakan anak-anak yang tengah berada di dalam rumah mereka.

Ketegangan berlanjut ke wilayah Selatan, di mana daerah Qizan Abu Rashwan di Khan Younis dihantam rudal yang menyasar tenda-tenda plastik tempat para pengungsi bernaung. Empat orang kehilangan nyawa dalam insiden tersebut. Sementara itu, di kamp pesisir Al-Mawasi yang sebelumnya kerap disebut sebagai zona aman, serangan udara menewaskan dua orang, termasuk seorang pahlawan kemanusiaan, Hussein Hasan Hussein al-Sumairy, petugas pertolongan pertama dari Bulan Sabit Merah Palestina yang tengah menjalankan tugasnya.

Alibi Militer dan Pergeseran Garis Demarkasi

Pihak Pasukan Pertahanan Israel (IDF) memberikan pernyataan bahwa aktivitas militer tersebut merupakan aksi balasan. Mereka mengeklaim bahwa satu unit lapis baja dan pesawat tempur dikerahkan setelah seorang perwira cadangan Israel terkena tembakan dan mengalami luka kritis saat melakukan “aktivitas operasional rutin” di wilayah yang mereka sebut sebagai “garis kuning”.

Namun, wartawan di lapangan melaporkan adanya indikasi lain. Israel diketahui mulai menggeser posisi “garis kuning”—batas wilayah yang berada di bawah kendali militer mereka—di area Gaza Timur. Pergeseran ini memicu kecemasan kolektif bagi penduduk lokal yang merasa ruang gerak mereka semakin terjepit dan keamanan mereka kian terancam oleh dengungan drone yang tak henti mengintai dari udara.

Angka Kematian yang Terus Mendaki

Meski secara formal kesepakatan gencatan senjata telah berjalan selama hampir empat bulan, realita di lapangan menunjukkan gambaran yang kontradiktif. Sejak kesepakatan itu ditandatangani, lebih dari 520 nyawa warga Palestina telah melayang.

Kondisi semakin memilukan ketika Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan penerimaan jenazah dari otoritas Israel melalui perantara Palang Merah. Sebanyak 54 jenazah dan 66 kotak berisi sisa-sisa bagian tubuh diserahkan dalam kondisi yang memprihatinkan. Tim medis saat ini tengah bekerja keras melakukan identifikasi agar sisa-sisa jasad tersebut dapat dimakamkan dengan layak oleh keluarga mereka.

Kilas Balik Konflik dan Tekanan Internasional

Sejak pecahnya perang pada 7 Oktober 2023, jumlah korban jiwa di pihak Palestina telah mencapai angka yang mengerikan, yakni 71.803 orang. Skala kehancuran dan jumlah korban sipil yang masif telah membawa Israel ke hadapan Mahkamah Internasional (ICJ) di Den Haag atas tuduhan genosida—sebuah label yang didukung oleh berbagai temuan penyelidikan PBB dan organisasi hak asasi manusia global.

Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda de-eskalasi yang nyata, dan warga Gaza terus hidup dalam ketidakpastian di bawah bayang-bayang dentuman bom yang bisa datang kapan saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *