Ketika sepak bola putri Indonesia mulai menunjukkan geliat prestasi, sorotan pun tertuju pada perbedaan perlakuan dan perhatian yang masih kentara dibanding tim nasional putra. Di saat yang sama, refleksi terhadap perjuangan perempuan dalam karya sastra klasik Indonesia kembali relevan—khususnya melalui novel “Layar Terkembang” karya Sutan Takdir Alisjahbana.
Timnas Putri dan Kesenjangan yang Nyata
Timnas Putri Indonesia belakangan mencatat berbagai pencapaian signifikan, baik melalui pemusatan latihan di luar negeri maupun program naturalisasi pemain berbakat diaspora. Di bawah kepemimpinan pelatih berpengalaman Satoru Mochizuki, skuad Garuda Pertiwi menunjukkan potensi besar, bahkan sempat menjuarai ajang regional Asia Tenggara.
Namun, tantangan masih membayangi. Liga 1 Putri yang terakhir kali digelar pada 2019 belum juga dilanjutkan hingga saat ini, dengan rencana penyelenggaraan kembali baru dimulai pada 2026. Padahal, liga adalah ekosistem penting untuk pembinaan pemain secara berkelanjutan.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyatakan bahwa tidak ada diskriminasi dalam pembangunan sepak bola nasional. Komitmen anggaran, pelatih asing, serta fasilitas latihan disebut telah diberikan secara setara. Meski demikian, disparitas dalam eksistensi kompetisi reguler dan sorotan media menunjukkan bahwa perjuangan timnas putri masih membutuhkan dukungan lebih luas dari berbagai sektor.
Layar Terkembang dan Cita Kesetaraan
“Layar Terkembang” adalah novel penting dalam sejarah sastra Indonesia yang menampilkan karakter perempuan progresif seperti Tuti dan Maria. Melalui karakter Tuti—yang rasional, mandiri, dan terdidik—Sutan Takdir menyuarakan gagasan emansipasi perempuan pada masa Hindia Belanda. Novel ini menjadi simbol perjuangan kaum perempuan dalam menuntut hak yang sama, termasuk dalam pendidikan, profesi, dan peran publik.
Semangat yang disuarakan dalam “Layar Terkembang” kini mencerminkan perjalanan timnas putri Indonesia. Keduanya memperlihatkan perjuangan untuk tampil dan diakui secara sejajar di ruang yang selama ini didominasi oleh laki-laki—baik itu di ranah sastra maupun olahraga.
Jalan Panjang Kesetaraan
Meskipun sudah banyak langkah maju, perjuangan kesetaraan dalam sepak bola putri belum sepenuhnya selesai. Ketersediaan liga profesional, dukungan sponsor, perhatian media, dan keterlibatan aktif masyarakat menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem yang benar-benar adil.
Kisah timnas putri hari ini sejatinya adalah kelanjutan dari cita-cita tokoh-tokoh perempuan di masa lalu. Dan seperti Tuti yang membentangkan layar untuk menghadapi tantangan zaman, para pemain timnas putri juga tengah membentangkan layarnya untuk membawa nama bangsa di kancah internasional—dengan harapan mendapat dukungan penuh tanpa batas.
Info selengkapnya hanya di Gelanggang News













