Kathmandu, GELANGGANG NEWS – Nepal tengah diguncang aksi unjuk rasa besar-besaran yang berubah menjadi kerusuhan hebat. Aksi bertajuk perlawanan terhadap korupsi ini dipimpin oleh kalangan muda, khususnya generasi Z (Gen Z), yang turun ke jalan karena marah atas praktik korupsi yang dianggap sudah merajalela di pemerintahan. Bentrokan yang terjadi sejak awal pekan ini telah menewaskan sedikitnya 19 orang dan melukai lebih dari 200 lainnya.
Demo rusuh guncang Nepal ini bermula dari kekecewaan mendalam masyarakat terhadap elite politik yang dinilai gagal memenuhi janji reformasi. Kemarahan semakin memuncak setelah terbongkarnya skandal korupsi besar di sektor infrastruktur dan kesehatan. Gen Z yang dikenal aktif di media sosial memobilisasi massa secara daring dan menyerukan aksi protes nasional yang menyebar ke berbagai kota besar, termasuk Kathmandu, Pokhara, dan Biratnagar.
Pemerintah Nepal menyebut aksi ini sebagai ancaman terhadap stabilitas negara. Namun, para demonstran bersikukuh bahwa aksi mereka adalah bentuk perlawanan terhadap sistem yang mereka anggap telah gagal. “Kami lelah dibohongi. Setiap tahun janji perubahan, tapi kenyataannya korupsi semakin merajalela,” ujar Ramesh Adhikari, 23 tahun, salah satu peserta aksi dari Kathmandu.
Bentrokan paling parah terjadi di alun-alun Durbar Square, jantung kota Kathmandu. Aparat keamanan dilaporkan menggunakan gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan massa. Namun, para demonstran membalas dengan melempar batu dan membakar kendaraan milik pemerintah. Dalam insiden tersebut, 12 orang tewas di tempat dan tujuh lainnya meninggal di rumah sakit akibat luka serius.

Demo rusuh guncang Nepal ini disebut-sebut sebagai yang paling mematikan dalam satu dekade terakhir. Aksi massa yang didominasi Gen Z ini menjadi simbol perlawanan generasi muda terhadap korupsi yang dianggap menghancurkan masa depan mereka. “Kami tidak akan berhenti sampai para koruptor diadili,” tegas Sita Maharjan, mahasiswa hukum dari Tribhuvan University.
Dalam pernyataan resminya, Perdana Menteri Pushpa Kamal Dahal menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan menyerukan dialog nasional. “Kami memahami kemarahan publik. Tapi kekerasan bukan solusi. Pemerintah akan membentuk komisi independen untuk menyelidiki tuduhan korupsi,” ujarnya.
Sementara itu, komunitas internasional, termasuk PBB dan Amnesty International, mengecam tindakan represif aparat dan mendesak pemerintah Nepal untuk menjamin hak berkumpul dan berekspresi. Organisasi HAM lokal menyatakan keprihatinan atas jumlah korban jiwa yang terus bertambah dan meminta investigasi transparan terhadap penggunaan kekuatan berlebihan oleh polisi.
Situasi di ibu kota dan kota-kota besar masih mencekam. Banyak toko tutup dan transportasi umum lumpuh. Meski demikian, massa aksi tetap bertekad melanjutkan protes. “Demo rusuh guncang Nepal ini adalah peringatan. Gen Z tidak akan diam ketika masa depan mereka dicuri,” kata aktivis muda Laxmi Tamang.
Untuk berita selengkapnya dan pembaruan situasi terkini, kunjungi situs resmi kami di www.gelanggangnews.com.

