GELANGGANG NEWS – Pemerintah China menolak ajakan Amerika Serikat untuk mengurangi jumlah senjata nuklir, menyebut permintaan tersebut tidak masuk akal dan mencerminkan standar ganda dari Washington. Penolakan ini disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Wang Wenbin, dalam konferensi pers rutin di Beijing pada Selasa (27/8).
Menurut Wang, ajakan AS agar China ikut serta dalam perjanjian pengurangan senjata nuklir tidak mencerminkan realitas kekuatan nuklir global saat ini. “China selalu menjaga kebijakan pertahanan minimum. Permintaan agar kami mengurangi senjata nuklir, sementara AS sendiri masih memiliki ribuan hulu ledak, sungguh tidak masuk akal,” tegasnya.
China Tolak Ajakan AS Kurangi Senjata Nuklir
Penolakan ini mempertegas sikap Beijing yang selama ini enggan bergabung dalam pembicaraan pengendalian senjata dengan dua kekuatan nuklir utama lainnya, yaitu Amerika Serikat dan Rusia. Menurut data Federasi Ilmuwan Amerika (FAS), AS dan Rusia masih menguasai lebih dari 90% persenjataan nuklir global, sementara China diperkirakan memiliki sekitar 500 hulu ledak aktif.
“AS harus terlebih dahulu menunjukkan itikad baik dengan mengurangi secara signifikan persenjataan nuklirnya, sebelum menuntut negara lain untuk melakukan hal serupa,” ujar Wang. Ia juga menambahkan bahwa AS justru terus meningkatkan kemampuan nuklirnya, termasuk melalui modernisasi sistem peluncuran dan pengembangan senjata hipersonik.
China Anggap Tak Masuk Akal Tekanan AS
Ketegangan antara kedua negara meningkat setelah beberapa pejabat senior AS menyerukan agar China dilibatkan dalam perundingan pembatasan senjata strategis, seperti yang pernah dilakukan AS dengan Rusia melalui perjanjian START. Namun, Beijing menyatakan bahwa situasi kekuatan nuklir antara pihak-pihak tersebut tidak setara, sehingga permintaan itu dianggap tidak relevan dan tidak adil.
“China tolak ajakan AS kurangi senjata nuklir bukan karena menolak tanggung jawab global, tetapi karena proposal tersebut tidak berdasarkan prinsip kesetaraan dan rasa saling percaya,” tegas analis kebijakan luar negeri dari Universitas Tsinghua, Liu Weidong.

Kekhawatiran Regional dan Internasional
Penolakan ini memicu kekhawatiran baru di kalangan negara-negara Asia Timur, yang khawatir bahwa perlombaan senjata antara China dan AS akan memperburuk stabilitas kawasan. Jepang dan Korea Selatan mendesak kedua negara untuk kembali ke meja dialog dan mencari solusi damai dalam isu keamanan strategis.
Sementara itu, Amerika Serikat menyatakan akan terus mendorong keterlibatan China dalam pembicaraan trilateral, meskipun menghadapi penolakan keras dari Beijing. Washington juga mengklaim bahwa transparansi dan pengurangan senjata nuklir adalah kunci untuk mencegah konflik besar di masa depan.
Penolakan yang Konsisten
Ini bukan kali pertama China menyampaikan keberatannya. Sejak beberapa tahun terakhir, China secara konsisten menolak tekanan dari Barat terkait isu nuklir. Dalam banyak kesempatan, China menekankan prinsip “no first use” (tidak akan menggunakan senjata nuklir terlebih dahulu), serta menolak perlombaan senjata dalam bentuk apapun.
Dengan posisi ini, China tolak ajakan AS kurangi senjata nuklir tetap menjadi isu strategis yang sensitif dalam hubungan internasional. Kalangan pengamat menilai bahwa tanpa kepercayaan dan pendekatan diplomatik yang lebih inklusif, upaya global untuk mengurangi senjata pemusnah massal akan terus menghadapi hambatan.
Untuk berita lainnya terkait hubungan internasional dan isu keamanan global, kunjungi www.gelanggangnews.com

