Wali Kota Medan, Bobby Nasution, akhirnya angkat bicara terkait munculnya kayu gelondongan yang terbawa arus banjir di sejumlah wilayah Sumatera Utara. Fenomena ini menjadi sorotan publik setelah video dan foto kayu-kayu berukuran besar itu viral di media sosial, memicu dugaan aktivitas pembalakan liar yang memperparah dampak banjir.
Dalam pernyataannya, Bobby menegaskan bahwa keberadaan kayu gelondongan tersebut bukan berasal dari wilayah administrasi Kota Medan. Menurutnya, arus banjir yang kuat membawa material dari daerah hulu yang berada di luar kendali pemerintah kota. Ia menyebut perlunya penyelidikan lebih lanjut oleh pemerintah provinsi dan aparat terkait untuk memastikan asal-usul kayu besar yang terbawa arus tersebut.
Bobby juga menyoroti pentingnya pengelolaan kawasan hutan yang lebih ketat, terutama di daerah yang menjadi titik aliran sungai menuju Kota Medan. Menurutnya, tanpa pengawasan yang serius di wilayah hulu, banjir akan semakin sulit dikendalikan meskipun pemerintah kota sudah melakukan normalisasi drainase dan pengerukan sungai secara berkala.
Di sisi lain, Bobby meminta masyarakat tidak langsung menyimpulkan bahwa kayu tersebut merupakan bukti pembalakan liar, meskipun potensi itu tetap perlu ditelusuri. Ia menegaskan bahwa pemerintah Kota Medan siap berkoordinasi dengan semua pihak untuk memastikan penyebab banjir dapat diatasi secara menyeluruh.
“Yang jelas, kami ingin memastikan penanganan banjir dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya di titik hilir. Banjir tidak bisa diselesaikan sendiri; semua pihak harus terlibat,” ujarnya, dalam pernyataan yang dirangkum khusus oleh Gelanggang News.
Saat ini, tim dari pemerintah provinsi serta aparat penegak hukum dikabarkan sedang turun ke lapangan untuk memeriksa kemungkinan adanya aktivitas illegal logging. Warga berharap penyelidikan tersebut memberikan kejelasan, sekaligus mencegah terulangnya banjir serupa yang membawa material berbahaya.
Peristiwa banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumut kali ini menjadi pengingat penting bahwa manajemen lingkungan tidak bisa dilakukan setengah hati. Gelanggang News mencatat bahwa berbagai pihak mendesak agar pengawasan hutan diperketat, rehabilitasi lingkungan dipercepat, dan tata kelola sungai diperbaiki sebelum bencana serupa kembali terjadi pada musim penghujan berikutnya.
Kabar selengkapnya dapat dibaca di www.gelanggangnews.com













