Akibat tiupan angin kencang yang terjadi pada Minggu (12/1), sebanyak 25 ton ikan yang dibudidayakan di keramba jaring apung di Danau Maninjau, Sumatera Barat, mati. Kejadian ini tercatat di Nagari Bayua, Kecamatan Tanjung Raya, yang melibatkan 12 petani ikan dari daerah Jorong Lubuak Anyia, Banda Tangah, dan Lubuak Kandang.
Menurut keterangan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Agam, Rosva Deswira, kejadian ini ditemukan setelah dilakukan pendataan oleh penyuluh perikanan di lapangan. Ikan jenis nila dengan berbagai ukuran ini tersebar di berbagai lokasi yang dikelola oleh petani lokal. Total kerugian yang ditaksir mencapai sekitar Rp625 juta, dengan harga jual ikan nila di tingkat petani mencapai Rp25 ribu per kilogram.
Badai kencang yang datang sejak Minggu sore tersebut memicu terjadinya pembalikan air di danau vulkanik ini, yang menyebabkan berkurangnya oksigen di bagian dasar danau. Akibatnya, ikan-ikan mengalami kekurangan oksigen dan mati. Pada Senin (13/1), banyak bangkai ikan yang terlihat mengapung di permukaan danau, dan pihak berwenang terus melakukan pendataan untuk menghitung jumlah ikan yang telah mati.

Rosva juga mengingatkan para petani untuk tidak membuang bangkai ikan ke dalam danau, karena hal tersebut dapat mengakibatkan pencemaran yang merugikan. Petani diminta untuk mengumpulkan dan menguburkan bangkai ikan, sehingga kualitas air danau tetap terjaga dan tidak tercemar.
Sebelumnya, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Agam sudah memberikan peringatan kepada masyarakat melalui surat yang diterbitkan pada 21 November 2024. Surat tersebut berisi prediksi mengenai cuaca ekstrem dan langkah-langkah pencegahan yang perlu diambil untuk menghindari kerugian akibat kematian ikan di Danau Maninjau. Rosva mengimbau agar para petani tetap waspada dan siap menghadapi perubahan cuaca yang bisa berdampak pada usaha budidaya ikan mereka.
Sumber: www.gelanggangnews.com

