Ruang Berita Terpercaya untuk Anda

Babak Baru Gencatan Senjata Gaza: Israel Sebut Hamas Melunak?

ByAdmin Gelanggang

Jul 25, 2025

Jakarta – Harapan akan tercapainya gencatan senjata di Gaza kembali menghadapi jalan terjal. Pada Kamis (24/7/2025) waktu setempat, baik Israel maupun Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk menarik delegasi mereka dari meja perundingan, demi melakukan konsultasi internal.

Langkah dramatis ini terjadi di tengah proses negosiasi yang telah berlangsung selama beberapa pekan, dan dipicu oleh tudingan dari utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, yang menyebut kelompok Hamas tidak menunjukkan itikad baik dalam perundingan.

“Mediator telah bekerja keras, namun Hamas tampaknya tidak terkoordinasi dan tak bertindak dengan niat baik,” tulis Witkoff di platform X. “Kami akan mempertimbangkan opsi alternatif untuk memulangkan para sandera dan menciptakan stabilitas di Gaza.”

Hamas Kecewa, Tegaskan Komitmen pada Perundingan

Pernyataan Witkoff mendapat respons keras dari pihak Hamas. Dalam pernyataan resmi yang dirilis Jumat (25/7/2025) dini hari, kelompok tersebut mengklaim bahwa posisi mereka justru telah disambut positif oleh para mediator internasional.

“Gerakan ini menegaskan komitmennya untuk terus bernegosiasi secara konstruktif, demi mengatasi hambatan yang ada dan mencapai kesepakatan gencatan senjata permanen,” demikian bunyi pernyataan Hamas, dikutip dari Reuters.

Namun, seorang pejabat Israel menyebut bahwa respons terbaru Hamas tidak membuka ruang kemajuan, kecuali Hamas melakukan sejumlah konsesi penting. Meski begitu, Israel tetap menyatakan niatnya untuk melanjutkan dialog diplomatik di waktu mendatang.

Tekanan Meningkat, Krisis Kemanusiaan Makin Parah

Tekanan terhadap kedua pihak kini semakin besar, baik secara internal maupun global. Di Israel, keluarga para sandera yang masih ditahan Hamas mendesak pemerintah agar tidak menyia-nyiakan peluang diplomatik yang ada. Forum Keluarga Sandera menyatakan penarikan delegasi sangat disayangkan dan memperkecil kemungkinan para sandera kembali dalam keadaan selamat.

“Setiap hari yang berlalu membuat peluang menemukan mereka semakin menipis,” ujar perwakilan forum tersebut.

Sementara itu, kondisi di Gaza makin memburuk secara kemanusiaan. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan dua kematian baru akibat kelaparan, termasuk pasien yang mengidap penyakit kronis dan tidak mendapatkan makanan selama beberapa hari.

Dunia Internasional Desak Tindakan Nyata

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer turut menyuarakan keprihatinan atas kondisi warga Gaza. Dalam pernyataan tegas, ia menyebut penderitaan di Gaza sebagai “bencana kemanusiaan yang tak bisa dibenarkan”, serta menyerukan agar Israel segera membuka akses bantuan kemanusiaan.

“Situasi telah mencapai titik nadir. Kita menyaksikan krisis kemanusiaan yang mendalam,” kata Starmer, seraya mengumumkan rencana untuk melakukan panggilan darurat bersama Presiden Prancis dan Kanselir Jerman.

Sebelum penarikan delegasi, sempat muncul secercah harapan akan tercapainya kesepakatan. Seorang pejabat senior Hamas menyebut bahwa negosiasi masih memungkinkan, namun terkendala oleh apa yang disebutnya sebagai “penundaan dari pihak Israel.”

Meski demikian, laporan dari media Channel 12 Israel menyebut masih terdapat perbedaan krusial dalam proposal, termasuk soal lokasi penarikan pasukan Israel selama masa jeda.

Serangan Udara Masih Berlangsung

Di tengah kebuntuan negosiasi, serangan udara Israel masih terus berlangsung. Hamas menuduh Israel tidak menunjukkan niat untuk menghentikan agresi militer, meskipun gencatan senjata menjadi bahan pembicaraan.

Utusan AS, Steve Witkoff, hingga kini belum menjelaskan secara rinci poin-poin dalam tuntutan Hamas yang dinilai menjadi penghambat.

Pantau terus perkembangan konflik di Gaza dan berita internasional lainnya di:
👉 www.gelanggangnews.com