GELANGGANG NEWS – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memuncak setelah Arab Saudi melancarkan serangan udara di kota pelabuhan Mukalla, Yaman, pada Selasa, 30 Desember 2025. Riyadh menyatakan serangan ini menargetkan kiriman senjata dan kendaraan tempur yang diduga berasal dari Uni Emirat Arab (UEA) untuk kelompok separatis lokal.
Koalisi militer pimpinan Saudi mengatakan dua kapal yang berangkat dari pelabuhan Fujairah, UEA, tiba di Mukalla tanpa izin dan mematikan sistem pelacakan sebelum membongkar muatan militer di pelabuhan. Menurut pernyataan resmi, senjata dan kendaraan tempur itu ditujukan untuk mendukung Southern Transitional Council (STC) — kelompok separatis yang diduga memiliki hubungan dengan Abu Dhabi.
Saudi menyebut pengiriman tersebut sebagai ancaman terhadap keamanan nasional dan stabilitas regional. Angkatan Udara Koalisi kemudian melakukan operasi udara terbatas untuk menindak muatan berbahaya tersebut, yang menurut Riyadh dapat memperburuk konflik di Yaman jika dibiarkan.
Pemerintah Yaman yang didukung Saudi merespons dengan membatalkan perjanjian pertahanan dengan UEA dan menuntut penarikan seluruh pasukan Emirat dalam 24 jam. Presiden Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman juga mengumumkan keadaan darurat nasional 90 hari, termasuk pembatasan penerbangan dan pergerakan di wilayah yang dikuasai anti-Houthi.
Sementara itu, UEA membantah telah mengirim senjata ke STC, menyatakan bahwa yang dikirim hanya kendaraan untuk keperluan pasukan mereka sendiri, sekaligus mengumumkan penghentian misi pasukan kontra-terorisme mereka di Yaman.
Insiden ini memperlihatkan retakan serius dalam hubungan antara dua sekutu Teluk yang sebelumnya bekerja sama dalam konflik Yaman melawan pemberontak Houthi. Diplomasi internasional, termasuk ajakan untuk menahan diri dari PBB dan mitra global, kini semakin penting agar konflik yang sudah bertahun-tahun berlangsung tidak makin memburuk.













