JAKARTA — Di tengah gejolak geopolitik dan tekanan dagang dari Amerika Serikat, kinerja ekspor Indonesia justru menunjukkan daya tahan yang mengesankan. Meskipun Presiden AS Donald Trump pada April 2025 secara terbuka menyampaikan rencana untuk mengenakan tarif dagang resiprokal hingga 32% terhadap Indonesia, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap bahwa neraca perdagangan RI-AS tetap surplus dan bahkan meningkat secara signifikan.
Surplus Dagang Menguat di Tengah Ancaman
Selama periode Januari hingga Juni 2025, neraca perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat mencatatkan surplus sebesar US$ 8,57 miliar. Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang hanya mencatatkan surplus US$ 6,45 miliar. Kinerja ini mencerminkan ketahanan fundamental ekspor Indonesia, terutama dari sektor nonmigas.
“Sampai pertengahan tahun ini, kita masih mencatatkan surplus dagang terhadap AS,” ujar Pudji Ismartini, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (1/8/2025). “Ini menunjukkan bahwa sektor ekspor Indonesia masih cukup kuat dan mampu bersaing di pasar internasional, bahkan di tengah tekanan kebijakan perdagangan dari negara mitra strategis.”
Strategi Trump dan Ruang Negosiasi
Trump pada April 2025 mengumumkan kebijakan tarif dagang tinggi dengan alasan perlunya penyesuaian tarif yang “adil” terhadap negara-negara yang selama ini dinilai terlalu diuntungkan dari perdagangan dengan AS. Indonesia termasuk dalam daftar negara yang disebut berpotensi dikenai tarif hingga 32% sebagai bentuk penyeimbangan hubungan dagang.
Namun, rencana tersebut belum direalisasikan sepenuhnya. Trump memberikan periode negosiasi selama 90 hari, yang berakhir pada akhir Juli 2025, untuk meninjau ulang posisi tarif terhadap beberapa negara mitra dagangnya. Dalam perkembangan terakhir, AS menawarkan pengurangan tarif dari 32% menjadi 19%, dengan kemungkinan diturunkan lebih lanjut ke 10%, tergantung pada hasil negosiasi dan konsesi dari pihak Indonesia.
“Negosiasi masih berlangsung. Tarif belum final. Kami terbuka untuk skema baru yang lebih adil dan seimbang,” ujar sumber dari Gedung Putih dalam pernyataan resmi yang disampaikan kepada delegasi dagang RI.
Ekspor Nonmigas Naik Dua Digit
Di tengah ketidakpastian ini, ekspor nonmigas Indonesia justru mengalami peningkatan signifikan. Total ekspor nonmigas ke Amerika Serikat pada paruh pertama 2025 mencapai US$ 14,78 miliar, naik 11,52% dibandingkan dengan US$ 12,25 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Lonjakan ini ditopang oleh sektor manufaktur, produk tekstil, elektronik, dan furnitur.
Sementara itu, impor nonmigas dari AS juga meningkat, meski dengan laju yang lebih lambat yakni 6,84%, dari US$ 4,55 miliar menjadi US$ 4,86 miliar. Hal ini berkontribusi pada surplus yang lebih besar dan menandakan bahwa permintaan konsumen AS terhadap produk-produk Indonesia tetap tinggi, meski dibayangi ketidakpastian kebijakan dagang.
Kajian Dampak Masih Berlangsung
Menurut BPS, dibutuhkan waktu untuk benar-benar mengukur dampak dari ancaman tarif dagang terhadap volume ekspor. Pudji menyatakan bahwa kajian lebih lanjut akan dilakukan untuk menilai apakah kenaikan ekspor ini merupakan bagian dari strategi eksportir yang mempercepat pengiriman sebelum kebijakan tarif berlaku, ataukah mencerminkan tren pertumbuhan yang berkelanjutan.
“Kami masih akan melakukan kajian secara menyeluruh untuk memahami faktor pendorong surplus ini. Bisa jadi eksportir mempercepat pengiriman barang selama masa negosiasi, atau memang ada peningkatan permintaan yang signifikan dari pasar AS,” jelasnya.
Sinyal Positif untuk Stabilitas Ekonomi RI
Kondisi surplus dagang ini memberi angin segar bagi ekonomi Indonesia yang tengah menghadapi berbagai tantangan global, termasuk fluktuasi harga komoditas, ketegangan geopolitik, dan perlambatan ekonomi Tiongkok. Stabilnya kinerja ekspor ke negara tujuan utama seperti AS menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga kestabilan neraca transaksi berjalan dan nilai tukar rupiah.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andri Faisal, menyebutkan bahwa keberhasilan mempertahankan surplus terhadap AS di tengah ancaman proteksionisme adalah cermin kekuatan struktural sektor industri ekspor Indonesia.
“Kinerja ini tidak hanya menguntungkan dari sisi neraca perdagangan, tetapi juga meningkatkan kepercayaan investor terhadap ketahanan ekonomi nasional,” ujarnya.
Ikuti perkembangan terbaru soal perdagangan internasional, kebijakan ekonomi, dan geopolitik global hanya di:
🔗 www.gelanggangnews.com

