GelanggangNews – JEMBER – Perjalanan cuti Lebaran seorang perawat asal Kabupaten Jember, Jawa Timur, berubah menjadi pengalaman tak terlupakan. Ia harus membantu proses persalinan di dalam pesawat yang sedang mengudara. Febrian Rahmatullah (30), perawat Rumah Sakit Bina Sehat (RSBS) Jember yang bertugas di Rumah Sakit Kementerian Pertahanan Kota Taif, Arab Saudi, saat itu sedang dalam penerbangan menuju Jakarta pada Kamis (12/3/2026) dini hari.
Saat pesawat Saudia Airlines telah lepas landas, kru kabin tiba-tiba mengumumkan adanya penumpang yang membutuhkan tenaga medis. Febrian segera melapor dan menyatakan siap membantu. Rupanya, saat itu seorang ibu hamil dalam kondisi siap melahirkan. Suasana kabin seketika tegang karena pesawat masih terbang di ketinggian ribuan kaki.
Momen Membantu Persalinan dalam Pesawat
“Saat awal saya datang, posisi kepala bayi sudah keluar,” ungkap perawat alumnus Universitas Muhammadiyah Jember itu, Sabtu (14/3/2026). Dengan sigap, Febrian segera meminta perlengkapan yang tersedia dan mulai membantu proses persalinan. “Saya segera meminta handscoone (sarung tangan medis) dan membantu si Ibu,” katanya.
Di ruang sempit dengan alat terbatas, Febrian berupaya tetap tenang dan fokus. Beberapa menit kemudian, bayi laki-laki itu lahir dengan selamat. Menurutnya, dua dokter dan satu perawat lain kemudian ikut membantu bersama kru pesawat yang bekerja sama memaksimalkan peralatan seadanya.
“Kami berempat, dibantu kru pesawat dengan peralatan seadanya, memotong tali pusar bayi dan memastikan kondisi bayi serta ibu stabil,” ungkap Febrian. Ia mengaku langsung menenangkan sang ibu. Namun, di momen itu, Febrian menyebut tidak banyak berkomunikasi dengan perempuan tersebut. “Ibunya mungkin syok dan kaget, jadi hanya bisa diam pasrah, tidak bicara apa-apa,” ujarnya. Diketahui, ibu tersebut merupakan warga asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang tengah melakukan perjalanan seorang diri untuk kembali ke Indonesia.
Pendaratan Darurat
Setelah berdiskusi dengan kapten, kru pesawat memutuskan melakukan pendaratan darurat kembali ke Jeddah demi keselamatan ibu dan bayi. “Setelah landing, kami berempat dibantu tim medis dari bandara melakukan tindakan pengeluaran plasenta,” kata Febrian. Ibu dan bayi lantas dievakuasi ke rumah sakit terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Setelah evakuasi selesai, maskapai kembali melanjutkan perjalanan menuju Jakarta sekitar pukul 08.00 waktu Arab Saudi. Akibatnya, jadwal mendarat di Jakarta tertunda karena pesawat harus kembali ke Jeddah.
Tiket Lanjutan Hangus, Pengalaman Berharga Didapat
Karena keterlambatan tersebut, tiket lanjutan menuju Surabaya milik Febrian hangus sehingga ia harus membeli tiket baru. Namun, di balik perubahan rencana itu, ia mengaku membawa pulang kisah langka. Bagi Febrian, itu adalah momen kemanusiaan yang tidak hanya menguji keterampilan, tetapi juga menghadirkan keharuan tersendiri.
Febrian mengatakan kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa profesi tenaga kesehatan menuntut kesiapsiagaan kapan pun dan di mana pun. “Yang jelas kaget, ini pengalaman pertama bantu lahiran di pesawat dengan alat yang terbatas. Cemas pasti, tapi harus tetap profesional memaksimalkan alat yang tersedia,” pungkasnya.

