GELANGGANG NEWS – Situasi di Timur Tengah kembali memanas setelah Israel secara resmi mengonfirmasi serangan militer terhadap Iran pada Kamis malam, 12 Juni 2025. Dalam operasi tersebut, puluhan fasilitas nuklir dan infrastruktur pertahanan Iran disebut menjadi target utama.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyebutkan bahwa serangan ini merupakan tindakan “preventif” untuk menghentikan ancaman dari program nuklir Iran yang terus berkembang. “Kami tidak mencari perang, tetapi kami tidak akan diam ketika ancaman semakin nyata. Serangan ini untuk memastikan masa depan yang lebih aman bagi rakyat Israel,” ungkap Katz dalam pernyataan resmi.
Laporan media internasional menyebutkan ledakan terjadi di beberapa lokasi di sekitar ibu kota Teheran. Meskipun pemerintah Iran belum mengonfirmasi lokasi yang diserang, sejumlah sumber menyebut bahwa fasilitas nuklir bawah tanah dan situs peluncuran rudal menjadi sasaran utama serangan Israel.
Pemerintah Israel juga menetapkan status siaga nasional usai meluncurkan serangan ini. Sirene peringatan rudal berbunyi di berbagai wilayah Israel sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan serangan balasan dari Iran.
Iran menyebut tindakan Israel sebagai agresi terang-terangan dan berjanji akan melakukan pembalasan. Militer Iran juga meningkatkan kesiapan di sepanjang perbatasan dan memperingatkan negara-negara yang bersekutu dengan Israel.
“Setiap tindakan ofensif terhadap kedaulatan kami akan dihadapi dengan kekuatan yang setimpal,” ujar juru bicara militer Iran.
Sementara itu, Amerika Serikat menyatakan bahwa mereka tidak terlibat langsung dalam operasi militer ini, namun tetap mendukung hak Israel untuk mempertahankan diri. Presiden AS juga menyerukan semua pihak untuk menahan diri guna menghindari perang besar-besaran di kawasan.
Serangan ini juga dinilai akan mempengaruhi negosiasi nuklir antara Iran dan negara-negara barat yang sedang berlangsung di Oman. Upaya diplomatik yang selama ini dijalankan berpotensi mandek akibat meningkatnya tensi militer.
Pengamat menyebut langkah Israel ini sebagai bagian dari strategi penahanan jangka panjang, namun juga berisiko memicu konflik berskala lebih luas jika tidak segera diredam.
Ikuti perkembangan terbaru dunia internasional hanya di:
https://gelanggangnews.com/

