GELANGGANG NEWS – Situasi di Los Angeles semakin memanas menyusul gelombang protes yang berujung kerusuhan. Pemerintah kota resmi memberlakukan jam malam setelah serangkaian aksi massa berubah menjadi kekacauan, termasuk penjarahan terhadap toko-toko mewah di sejumlah kawasan elite.
Protes Memanas dan Berubah Jadi Kerusuhan
Awalnya berlangsung damai, demonstrasi yang dipicu oleh penangkapan besar-besaran imigran oleh lembaga ICE kini berubah menjadi kerusuhan terbuka. Massa menyerbu sejumlah jalan utama di pusat kota, memblokir akses dan memicu bentrokan dengan aparat keamanan.
Pada malam ketiga demonstrasi, aksi protes meluas ke distrik perbelanjaan kelas atas seperti Rodeo Drive, Melrose Avenue, dan Grove LA. Sejumlah toko desainer internasional seperti Louis Vuitton, Gucci, dan Chanel dilaporkan menjadi sasaran penjarahan.
Pemberlakuan Jam Malam
Pemerintah Kota Los Angeles akhirnya menetapkan jam malam dimulai pukul 19.00 hingga 06.00 pagi sebagai langkah darurat untuk membatasi pergerakan warga. Wali Kota Los Angeles, Karen Bass, menyatakan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut dan menjamin keselamatan publik.
Aparat dari LAPD (Kepolisian Los Angeles) dikerahkan penuh ke titik-titik rawan, dibantu oleh Garda Nasional. Sementara itu, helikopter pengintai terus berputar di atas wilayah yang dianggap berisiko tinggi.
Penjarahan Terorganisir
Beberapa laporan menyebut bahwa penjarahan dilakukan oleh kelompok-kelompok yang tampak terorganisir. Dalam sejumlah video yang beredar di media sosial, terlihat kendaraan-kendaraan pickup berhenti di depan toko, kemudian sekelompok orang masuk, menguras isi toko, dan kabur dalam waktu singkat.
Petugas keamanan swasta di beberapa mal dan pusat perbelanjaan besar mulai memperketat penjagaan, namun tidak mampu sepenuhnya mencegah aksi brutal tersebut. Hingga kini, kepolisian mengonfirmasi setidaknya 180 toko telah mengalami kerusakan atau pencurian.
Media dan Aktivis Jadi Sasaran
Selain toko, sejumlah jurnalis dan aktivis juga mengaku mengalami intimidasi dan kekerasan dari aparat keamanan. Laporan dari Freedom of the Press Foundation mencatat bahwa lebih dari 25 insiden kekerasan terhadap jurnalis terjadi hanya dalam dua hari terakhir.
Beberapa kru media bahkan dilaporkan ditahan meski telah menunjukkan identitas pers mereka. Hal ini memicu kritik keras dari organisasi HAM internasional, yang menyerukan transparansi dan perlindungan terhadap pekerja media.
Penangkapan Massal dan Reaksi Warga
LAPD mengonfirmasi telah menangkap lebih dari 400 orang yang dianggap terlibat dalam kerusuhan atau pelanggaran jam malam. Sebagian besar dari mereka dijerat dengan tuduhan penjarahan, perusakan fasilitas umum, dan pelanggaran perintah pemerintah kota.
Di sisi lain, banyak warga yang menyuarakan keresahan mereka terhadap tindakan aparat yang dianggap terlalu represif, terutama terhadap warga sipil yang tidak terlibat langsung dalam kerusuhan.
Baca berita lengkap dan update terbaru di: https://gelanggangnews.com

