Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, pada Minggu (9/3) mengungkapkan bahwa rencana pengusiran warga Palestina dari Jalur Gaza semakin mendekati kenyataan. Dalam sebuah pernyataan di parlemen Israel, Smotrich menegaskan bahwa Israel sedang berkoordinasi dengan Amerika Serikat dalam pelaksanaan strategi ini.
Menurut Smotrich, persiapan sedang dilakukan untuk membentuk sebuah badan pengelola khusus yang akan menangani proses pemindahan warga Gaza ke negara lain. Ia menyebutkan bahwa inisiatif ini memiliki potensi untuk membawa perubahan besar bagi Israel serta kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.
Ia juga menegaskan bahwa rencana ini bergantung pada identifikasi negara-negara yang bersedia menerima pengungsi Palestina. Smotrich menyebutkan bahwa upaya diplomatik sedang dilakukan untuk memahami kepentingan negara-negara tersebut, baik dalam konteks hubungan dengan AS maupun Israel.
Dari sisi teknis, Smotrich memperkirakan bahwa jika proses pemindahan dilakukan dengan kecepatan 10.000 orang per hari, maka akan membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk menyelesaikan seluruh relokasi. Jika jumlahnya dikurangi menjadi 5.000 orang per hari, maka prosesnya akan memakan waktu satu tahun.
Namun, rencana ini memicu kecaman dari berbagai pihak, termasuk Palestina, negara-negara Arab, serta beberapa pemimpin dunia. Para ahli hukum internasional juga memperingatkan bahwa pengusiran paksa warga Gaza dapat melanggar hukum internasional.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump sempat mengutarakan gagasan bahwa Gaza dapat diubah menjadi pusat wisata “Riviera Timur Tengah”, dengan mengusulkan agar warga Palestina dipindahkan ke negara-negara tetangga seperti Mesir dan Yordania. Usulan ini memicu protes dari berbagai pihak yang menilai kebijakan tersebut tidak manusiawi.
Sebagai tanggapan, pekan lalu, sejumlah negara Arab mengajukan proposal tandingan yang bertujuan untuk membangun kembali Gaza tanpa menggusur penduduknya. Usulan ini mendapat dukungan dari beberapa negara Islam dan pemerintah Eropa, dengan harapan dapat menjadi alternatif terhadap rencana Trump.
Utusan AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, menyatakan bahwa proposal Arab adalah “langkah awal yang menunjukkan itikad baik dari Mesir”. Namun, di saat yang sama, beberapa pejabat AS dan Israel tetap menyatakan keberatan terhadap solusi ini.
Sementara itu, Smotrich menegaskan dukungannya terhadap rencana Trump, menyebutnya sebagai “peluang emas” untuk mengakhiri konflik Israel-Palestina yang telah berlangsung selama lebih dari tujuh dekade. Ia juga menyatakan optimisme bahwa dengan pemerintahan AS saat ini, Israel dapat mengambil langkah yang lebih besar dalam menyelesaikan permasalahan ini.
sumber: https://gelanggangnews.com/
