Ruang Berita Terpercaya untuk Anda

Ratusan Wanita Thailand Jadi Korban Perdagangan Sel Telur di Georgia

ByAdmin Gelanggang

Feb 17, 2025

Tiga wanita asal Thailand berhasil dibebaskan setelah menjadi korban sindikat perbudakan sel telur di Georgia. Mereka ditipu dengan tawaran pekerjaan sebagai ibu pengganti, namun berakhir terjebak dalam jaringan eksploitasi yang mengerikan.

Menurut laporan Reuters, salah satu dari korban mengungkapkan bahwa ia awalnya menemukan informasi pekerjaan ini melalui media sosial. Ia dijanjikan tinggal dan bekerja bersama keluarga di Georgia dengan gaji bulanan sebesar 25 ribu baht (sekitar Rp12 juta).

Setelah menerima tawaran tersebut, korban dibawa ke Georgia melalui Dubai dan Armenia oleh dua orang yang merupakan warga negara Tiongkok.

Sesampainya di sana, mereka dibawa ke sebuah rumah yang dihuni oleh sekitar 60 hingga 70 wanita asal Thailand lainnya. Di rumah tersebut, para korban diberitahu bahwa mereka tidak akan menerima kontrak pekerjaan.

Korban menceritakan bahwa para wanita yang dipaksa berada di rumah tersebut diberi suntikan hormon untuk merangsang produksi sel telur, lalu dibius dan sel telur mereka diambil setiap bulan menggunakan mesin.

Diperkirakan, sel telur yang diambil kemudian dijual dan diperdagangkan ke luar negeri untuk digunakan dalam prosedur bayi tabung (IVF).

Setelah mengetahui bahwa kenyataan tidak sesuai dengan iklan yang mereka terima, para korban pun merasa ketakutan dan berusaha menghubungi keluarga mereka di Thailand. Mereka pun berpura-pura sakit atau lemah untuk menghindari pengambilan sel telur oleh sindikat tersebut. Paspor mereka disita dan mereka diancam akan ditangkap jika mencoba melarikan diri atau kembali ke Thailand.

Ratusan Wanita Thailand Jadi Korban Perdagangan Sel Telur di Georgia

Pavena Hongsakul Foundation for Children and Women, sebuah LSM yang berbasis di Thailand, membantu ketiga wanita tersebut untuk pulang ke negaranya.

Pendiri Pavena Foundation, Pavena Hongsakul, mengungkapkan bahwa ia pertama kali mengetahui tentang sindikat ini dari korban lain yang telah dibebaskan pada bulan September 2024. Mereka harus membayar uang sebesar 70 ribu baht (sekitar Rp33 juta) kepada sindikat untuk dibebaskan.

Menurut salah satu korban, ratusan wanita lainnya masih terjebak dalam situasi yang sama, karena tidak mampu membayar uang untuk membebaskan diri mereka. Diperkirakan, masih ada sekitar 100 wanita yang menjadi korban perdagangan manusia dan terperangkap di Georgia.

Saat ini, pihak berwenang di Thailand dan Georgia tengah melakukan penyelidikan terhadap jaringan perdagangan manusia ini. Mereka juga sedang memeriksa keterlibatan empat warga negara asing dalam kasus tersebut.