GelanggangNews – Kasus kekerasan kembali menimpa pembela Hak Asasi Manusia (HAM). Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tidak dikenal pada Kamis malam (12/3/2026). Peristiwa ini diduga kuat berkaitan dengan aktivitas advokasi yang dilakukannya.
1. Rangkaian Intimidasi Sebelum Kejadian
Berdasarkan catatan KontraS, indikasi gangguan sudah muncul beberapa hari sebelum eksekusi lapangan:
9 – 12 Maret 2026: Korban menerima rentetan panggilan telepon dari nomor asing.
Modus: Panggilan tersebut menyerupai spam penipuan, tawaran pinjaman online, hingga gangguan teknis m-banking.
2. Aktivitas Terakhir Korban (Kamis, 12 Maret)
15.30 WIB: Andrie berangkat dari kantor KontraS menuju kantor CELIOS di Menteng.
19.45 WIB: Menuju kantor YLBHI untuk melakukan rekaman podcast bersama Zainal Arifin (staf YLBHI). Diskusi tersebut membahas isu sensitif: “Remiliterisasi dan Judicial Review UU TNI”.
23.00 WIB: Setelah selesai berkegiatan di YLBHI, korban menyempatkan mengisi bensin di SPBU Cikini sebelum berkendara pulang.
3. Detik-Detik Penyerangan di Salemba
Peristiwa terjadi di Jalan Salemba I sekitar pukul 23.37 WIB:
Posisi Pelaku: Dua orang berboncengan motor (diduga Honda Beat/Vario hitam-putih) melaju melawan arah.
Aksi: Saat berpapasan, pelaku langsung menyiramkan cairan kimia (diduga air keras) ke arah Andrie.
Dampak Langsung: Cairan mengenai wajah, mata, dada, dan tangan. Saksi menyebut pakaian korban sampai meleleh akibat kerasnya zat tersebut.
Bukti di Lokasi: Pelaku melarikan diri ke arah Jalan Salemba Raya dan meninggalkan sebuah gelas stainless steel yang diduga digunakan sebagai wadah cairan.
4. Penanganan Medis dan Kondisi Terkini
Rekan korban segera membawa Andrie ke RSCM pada pukul 23.48 WIB. Berikut adalah detail kondisi medisnya:
Luka Bakar: Mencapai 24% dari seluruh tubuh.
Tim Medis: Ditangani oleh enam dokter spesialis (Mata, THT, Saraf, Tulang, Thoraks, dan Kulit).
Tindakan Khusus: Andrie dijadwalkan menjalani operasi transplantasi membran amnion untuk menyelamatkan jaringan matanya yang rusak.
Pernyataan KontraS
Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, menegaskan bahwa tidak ada barang berharga milik korban yang hilang, sehingga motif perampokan (begal) dikesampingkan.
“Serangan ini adalah ancaman serius bagi keselamatan pembela HAM di Indonesia. Kami mendesak kepolisian segera menangkap aktor di balik serangan ini,” tegas Dimas.









