GelanggangNews – Harga minyak dunia melonjak tajam hingga menembus 111 dolar AS per barel, menjadi level tertinggi sejak 2022. Lonjakan ini dipicu meningkatnya konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang menimbulkan kekhawatiran serius terhadap pasokan energi global.
Pada awal perdagangan Asia, minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Mei 2026 melonjak hampir 20 persen dan sempat menyentuh US$111,04 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan signifikan hingga mendekati level yang sama sebelum sedikit terkoreksi.
Kenaikan drastis ini terjadi setelah serangan terhadap sejumlah fasilitas minyak Iran serta meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah. Konflik tersebut memicu kekhawatiran pasar bahwa jalur distribusi minyak dunia akan terganggu, terutama di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global.
Selain itu, beberapa produsen minyak di kawasan Timur Tengah mulai mengurangi produksi karena gangguan logistik dan meningkatnya risiko keamanan. Situasi ini membuat pasar energi global menjadi sangat sensitif terhadap perkembangan konflik yang sedang berlangsung.
Analis memperingatkan bahwa harga minyak berpotensi terus naik jika konflik semakin meluas atau mengganggu fasilitas produksi dan pengiriman minyak di kawasan tersebut. Lonjakan harga energi juga dikhawatirkan memicu dampak ekonomi global, seperti meningkatnya inflasi dan naiknya biaya transportasi serta logistik di berbagai negara.
Ikuti perkembangan terbaru berita ekonomi internasional hanya di Gelanggang News:
https://gelanggangnews.com/













