Padasari dalam Kepungan Tanah Bergerak: Ribuan Warga Tegal Kehilangan Tempat Tinggal

GelanggangNews – KABUPATEN TEGAL – Desa Padasari di Kecamatan Jatinegara kini berada dalam situasi genting. Fenomena tanah bergerak yang meluas telah mengubah wajah desa tersebut menjadi zona bencana, menyisakan retakan-retakan besar di dinding rumah warga dan memutus akses infrastruktur vital. Hingga saat ini, pergerakan tanah dilaporkan masih sangat dinamis, memaksa ribuan jiwa bertahan di tenda-tenda darurat dalam ketidakpastian.

Detik-Detik Mencekam di Awal Februari

Bencana ini dipicu oleh cuaca ekstrem yang melanda wilayah Tegal pada Senin, 2 Februari 2026. Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur tanpa henti sejak pukul 14.00 WIB hingga malam hari. Bagi warga Padasari, hujan sore itu bukan sekadar air jatuh ke bumi, melainkan awal dari kehancuran struktur tanah pemukiman mereka.

Nur Halimah (35), salah satu warga yang kehilangan tempat tinggal, menceritakan pengalaman traumatisnya saat tanah di bawah kakinya seolah merosot.

“Sekitar jam sembilan malam, saya sudah tidak berani di dalam rumah. Tembok-tembok hancur dan tanah di bawah lantai sudah merembes, amblas sampai tidak bisa diinjak lagi,” kenangnya dengan nada getir saat ditemui di posko pengungsian.

Kondisi serupa dialami oleh Ahmad Ubaidillah, siswa kelas V SD Padasari 01. Meski rumahnya tidak rata dengan tanah, pergeseran tanah yang ekstrem membuat posisi bangunan rumahnya miring ke atas secara tidak wajar, sehingga membahayakan siapa pun yang berada di dalamnya.

Skala Kerusakan yang Meluas

Bencana ini tidak hanya menyasar hunian warga, tetapi juga melumpuhkan sendi-sendi kehidupan di desa tersebut. Berdasarkan laporan terkini dari pemerintah daerah, dampak kerusakan mencakup:

  • Permukiman: Sebanyak 464 rumah terdampak, di mana 250 unit di antaranya masuk dalam kategori rusak berat atau roboh total.

  • Infrastruktur Publik: Akses jalan umum retak dan sulit dilalui, bangunan sekolah mengalami kerusakan struktur, serta beberapa tempat ibadah tidak lagi bisa digunakan untuk kegiatan keagamaan.

  • Kemanusiaan: Lebih dari 2.000 warga kini tersebar di empat titik pengungsian utama, bertahan dengan fasilitas seadanya sambil menunggu kepastian nasib mereka.

Respons Cepat dan Kebijakan Relokasi

Menanggapi skala bencana yang masif, Bupati Tegal, Ischak Maulana Rohman, telah mengambil langkah tegas dengan menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana melalui SK Bupati. Pemerintah daerah juga langsung mengaktifkan Pos Komando (Posko) dan Satuan Tugas Kebencanaan yang dipimpin oleh Sekretaris Daerah serta melibatkan jajaran Forkopimda.

“Prioritas utama kami adalah menjamin kebutuhan dasar pengungsi. Sejak malam kejadian, tenda darurat, alas tidur, hingga dapur umum di dua titik utama sudah dioperasikan. Kami juga menyiagakan toilet portabel untuk menjaga sanitasi di lokasi pengungsian,” ujar Bupati Ischak dalam keterangannya.

Meskipun kerusakan materiel sangat besar, Bupati memastikan bahwa tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini karena kesigapan warga untuk segera mengevakuasi diri saat tanda-tanda bahaya muncul.

Masa Depan di Lahan Baru

Mengingat kondisi geologis di Desa Padasari yang sudah tidak memungkinkan lagi untuk ditinggali, Pemerintah Kabupaten Tegal tengah menyiapkan rencana besar untuk melakukan relokasi. Lahan milik Perhutani menjadi kandidat kuat sebagai lokasi pemukiman baru bagi warga terdampak. Lokasi ini dinilai memiliki struktur tanah yang jauh lebih stabil dan aman dibandingkan lahan yang saat ini mereka tempati.

Kini, warga seperti Siti Waridah dan ribuan lainnya hanya bisa berharap agar proses relokasi dan pembangunan hunian sementara dapat segera terealisasi, sehingga mereka bisa memulai hidup baru jauh dari bayang-bayang tanah yang bergerak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *