GelanggangNews – Bencana banjir bandang dan longsor yang menerpa Kabupaten Bener Meriah pada akhir November tahun lalu menyisakan duka mendalam. Banjir bandang, banjir luapan, dan tanah longsor menerjang wilayah ini tanpa jeda. Akibatnya, banyak fasilitas serta infrastruktur publik mengalami kerusakan berat, permukiman warga luluh lantak, dan sektor pertanian yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat tidak luput dari kehancuran besar.
Jalan dan jembatan putus, sekolah serta fasilitas kesehatan rusak, bahkan rumah ibadah pun tidak luput dari terjangan bencana. Ratusan hektare kebun kopi dan sawah milik masyarakat porak-poranda, menyisakan ancaman serius bagi ekonomi serta ketahanan pangan daerah.
Kerugian Lebih dari Rp7 Triliun
Total kerusakan dan kerugian fisik maupun sosial akibat bencana sepanjang tahun lalu ditaksir mencapai Rp7,19 triliun.
“Bencana yang terjadi meliputi banjir luapan, banjir bandang, tanah longsor, hingga angin kencang. Seluruhnya terjadi saat musim hujan, puncaknya pada 26 November tahun lalu,” ujar Kepala Bidang Penelitian, Pengembangan Program, dan Pendanaan Pembangunan Bappeda Bener Meriah, Rahmat, saat dihubungi melalui telepon seluler, Rabu (4/2/2026).
Menurutnya, hujan dengan intensitas menengah hingga tinggi yang umumnya terjadi pada sore hingga malam hari menyebabkan lonjakan debit air meningkat drastis, khususnya di sekitar aliran sungai. Selain itu, kondisi topografi Bener Meriah yang berbukit serta dinamika atmosfer regional memperparah daya rusak bencana. Aliran air membawa material seperti lumpur, pohon, dan sedimen yang secara langsung merusak sebagian besar permukiman serta lahan pertanian warga.
Infrastruktur Jadi Kerusakan Terparah
Berdasarkan hasil kajian Bappeda, sektor infrastruktur mengalami kerusakan paling parah dibandingkan sektor lain. Kerusakan jalan, jembatan, dan fasilitas publik lainnya menyumbang kerugian terbesar. Adapun rincian nilai kerusakan dan kerugian tersebut meliputi:
Sektor Infrastruktur: Rp4,8 triliun
Sektor Ekonomi: Rp1,8 triliun
Permukiman: Rp215 miliar
Lintas Sektor: Rp176 miliar
Sektor Sosial: Rp75 miliar
Total keseluruhan kerusakan dan kerugian akibat bencana diperkirakan mencapai Rp7,1 triliun.
Pemulihan Pascabencana Butuh Rp7,32 Triliun
Untuk menanggulangi dampak besar tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bener Meriah melalui Bappeda telah menyusun Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana dengan total kebutuhan pendanaan mencapai Rp7,32 triliun.
Sektor infrastruktur menjadi prioritas utama dengan anggaran pemulihan sebesar Rp5,67 triliun. Selanjutnya, lintas sektor membutuhkan biaya Rp201,16 miliar, permukiman Rp191,72 miliar, dan sektor sosial mencapai Rp33,80 miliar.
Rahmat menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak boleh sekadar membangun ulang apa yang telah hancur. “Prinsip Pengurangan Risiko Bencana (PRB) harus menjadi fondasi utama agar bencana serupa tidak terus berulang,” tuturnya. Rehabilitasi dan rekonstruksi, lanjut Rahmat, harus dilaksanakan berbasis skala prioritas yang disertai langkah mitigasi kuat. Tujuannya bukan hanya untuk memulihkan, tetapi juga sebagai persiapan menghadapi risiko bencana ke depannya











