GelanggangNews – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat bergerak cepat merespons bencana longsor yang menerjang Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua. Anggaran sebesar Rp7,3 miliar disiapkan untuk mendukung masa darurat bencana yang telah ditetapkan selama 14 hari.
Sekretaris Daerah (Sekda) Bandung Barat, Ade Zakir, menjelaskan bahwa dana tersebut bersumber dari pos Belanja Tidak Terduga (BTT) APBD Tahun Anggaran 2026.
“Pak Bupati telah menetapkan status darurat bencana selama 14 hari. Untuk mendukung operasional dan penanganan di lapangan, kami telah menyiapkan anggaran BTT sebesar Rp7,3 miliar,” ujar Ade dalam keterangan resminya, Kamis (29/1/2026).
Pemfokusan Anggaran pada Tiga Klaster Utama
Guna memastikan penanganan yang efektif dan tepat sasaran, Ade merinci bahwa anggaran tersebut akan didistribusikan ke dalam tiga sektor prioritas:
Klaster Kesehatan (Dinas Kesehatan): Difokuskan pada pelayanan medis bagi para penyintas di pengungsian, dukungan kesehatan bagi relawan, hingga proses identifikasi korban oleh tim medis.
Klaster Sosial (Dinas Sosial): Menjangkau pengelolaan bantuan logistik, kebutuhan dapur umum, hingga layanan pemulihan psikososial bagi warga terdampak.
Klaster Kebencanaan (BPBD): Meliputi kebutuhan operasional di titik nol bencana, termasuk mobilisasi alat berat dan koordinasi teknis di lapangan.
“Kami mengoordinasikan seluruh lini, mulai dari pengobatan, identifikasi DVI, hingga kebutuhan teknis seperti alat berat,” tambah Ade.
Update Evakuasi: 55 Kantong Jenazah Ditemukan
Proses pencarian di lokasi bencana masih terus berlanjut. Hingga Kamis sore (29/1) pukul 16.30 WIB, Tim SAR Gabungan melaporkan perkembangan signifikan terkait jumlah korban.
Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian, mengungkapkan bahwa personel di lapangan telah berhasil mengevakuasi total 55 kantong jenazah (body pack). Meski demikian, tugas tim penyelamat masih jauh dari kata selesai.
“Berdasarkan data terbaru, masih terdapat sekitar 25 orang yang dinyatakan hilang. Tim SAR gabungan masih terus melakukan upaya maksimal di lapangan untuk mencari keberadaan korban yang tersisa,” terang Ade Dian.
Bencana longsor yang terjadi pada Sabtu (24/1) lalu ini menjadi salah satu musibah terbesar di wilayah Cisarua di awal tahun 2026, yang memicu keprihatinan luas serta mobilisasi bantuan dari berbagai pihak.











