Yogyakarta – Prestasi membanggakan kembali datang dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Salah satu dosen muda Fakultas Farmasi, Dr. Eka Noviana, M.Sc., Apt., berhasil menorehkan nama Indonesia di kancah ilmiah internasional. Di usianya yang baru 34 tahun, ia berhasil masuk ke dalam daftar 2 persen ilmuwan paling berpengaruh di dunia (World’s Top 2% Scientists 2025) yang disusun oleh Stanford University bekerja sama dengan Elsevier BV.
Pencapaian ini menjadi bukti bahwa peneliti muda Indonesia memiliki kapasitas untuk bersaing di tingkat global. Nama Eka tercantum dalam kategori “career-long impact”, yang berarti karyanya memberikan dampak jangka panjang dan berpengaruh besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dunia.
Dari Yogyakarta ke Dunia: Perjalanan Riset yang Menginspirasi
Eka Noviana merupakan salah satu akademisi yang fokus pada pengembangan alat deteksi berbasis kertas atau paper-based analytical device (PAD). Inovasi ini memungkinkan identifikasi bahan kimia berbahaya seperti boraks, pewarna tekstil, atau kontaminan obat hanya dengan satu tetes sampel. Teknologi tersebut ramah lingkungan, mudah digunakan, dan murah — solusi tepat bagi daerah dengan fasilitas laboratorium terbatas.
Perjalanan Eka dalam dunia riset dimulai sejak menempuh pendidikan doktoral di Colorado State University, Amerika Serikat. Di sana, ia mengembangkan berbagai metode analisis kimia sederhana yang tetap memiliki akurasi tinggi. Sekembalinya ke Indonesia, Eka memilih untuk mengabdikan ilmunya di UGM agar hasil risetnya dapat memberi manfaat langsung kepada masyarakat.
Menurut Eka, inovasi yang sederhana namun aplikatif adalah kunci kemajuan sains di negara berkembang. “Tujuan saya bukan sekadar publikasi, tapi bagaimana penelitian ini bisa digunakan untuk membantu masyarakat di lapangan,” ujarnya dalam wawancara dengan tim akademik UGM.
Pengakuan Dunia dan Dampak Ilmiah
Daftar ilmuwan paling berpengaruh versi Stanford University disusun berdasarkan jumlah sitasi, kolaborasi internasional, serta dampak penelitian terhadap perkembangan ilmu pengetahuan global. Hanya sedikit peneliti dari Indonesia yang berhasil menembus daftar bergengsi tersebut, dan Eka menjadi salah satu di antaranya.
Publikasi ilmiahnya telah banyak dikutip di jurnal internasional bereputasi, terutama dalam bidang analisis kimia, farmasi, dan teknologi diagnostik sederhana. Karya Eka menjadi rujukan penting bagi peneliti dari Amerika, Eropa, hingga Asia dalam pengembangan alat deteksi kimia berbasis kertas.
Selain aktif meneliti, Eka juga membimbing mahasiswa S1 dan S2 di UGM untuk menelurkan inovasi serupa. Ia percaya bahwa keberhasilan seorang dosen tidak hanya diukur dari prestasi pribadi, tetapi juga dari seberapa besar kontribusinya dalam melahirkan generasi ilmuwan baru yang berintegritas.
Tantangan dan Harapan Seorang Peneliti Muda
Sebagai peneliti di negara berkembang, Eka tidak menampik adanya tantangan dalam hal pendanaan riset dan keterbatasan alat laboratorium. Namun, ia menganggap hal itu sebagai dorongan untuk berinovasi. “Keterbatasan justru membuat kita berpikir lebih kreatif. Banyak solusi besar lahir dari kondisi yang sederhana,” ungkapnya.
Eka berharap pemerintah dan lembaga pendidikan di Indonesia semakin memperkuat dukungan terhadap riset dasar dan terapan. Menurutnya, riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat adalah fondasi untuk membangun bangsa yang mandiri secara ilmiah.
Kebanggaan bagi Indonesia dan Dunia Akademik
Prestasi Eka Noviana menambah daftar panjang dosen UGM yang diakui secara internasional. Pada 2025, total ada 14 dosen UGM yang masuk daftar ilmuwan paling berpengaruh di dunia dari berbagai bidang, mulai dari kedokteran, teknik, hingga farmasi.
Capaian ini menjadi bukti bahwa UGM terus berkomitmen mencetak akademisi unggul yang tidak hanya produktif secara ilmiah, tetapi juga memiliki dampak nyata bagi masyarakat. Melalui semangat dan kerja kerasnya, Eka Noviana menunjukkan bahwa ilmuwan muda Indonesia mampu bersaing di kancah global tanpa kehilangan jati diri.
Selengkapnya kunjungi www.gelanggangnews.com












