Beijing, GELANGGANG NEWS — Pemerintah Tiongkok kembali menunjukkan kemajuan signifikan dalam bidang pertahanan militer dengan mengumumkan bahwa China perkenalkan sistem hipersonik, drone dan anti-drone di parade 3 September mendatang. Parade militer tersebut akan digelar di Lapangan Tiananmen, Beijing, dalam rangka memperingati kemenangan Tiongkok atas Jepang pada Perang Dunia II serta menunjukkan kekuatan teknologi pertahanannya kepada dunia.
Kementerian Pertahanan China menyatakan bahwa parade kali ini akan menjadi salah satu yang terbesar dalam dekade terakhir, dengan fokus utama pada pameran teknologi militer terbaru. Dalam siaran pers yang dirilis awal pekan ini, disebutkan bahwa China perkenalkan sistem hipersonik, drone dan anti-drone di parade 3 September sebagai bagian dari strategi modernisasi militer dan peningkatan kapasitas tempur yang adaptif terhadap dinamika perang masa kini.
Salah satu sorotan utama adalah rudal hipersonik terbaru yang diklaim mampu melesat dengan kecepatan lebih dari Mach 5 dan menembus sistem pertahanan udara lawan. Teknologi ini disebut-sebut setara, bahkan bisa melampaui, sistem hipersonik milik Amerika Serikat dan Rusia. Kemampuan manuver dan presisi tinggi menjadikan sistem ini sebagai senjata strategis masa depan bagi Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).
Selain itu, China juga perkenalkan sistem drone dan anti-drone, yang disebut telah diuji dalam berbagai kondisi cuaca dan medan ekstrem. Drone serbu generasi terbaru akan ditampilkan bersama sistem pertahanan udara anti-drone yang dirancang untuk melumpuhkan UAV (Unmanned Aerial Vehicle) musuh secara cepat melalui teknologi jamming dan laser.

Pengamat militer dari China Arms Research Institute, Liu Zheng, mengatakan bahwa inovasi ini merupakan wujud nyata dari investasi besar-besaran China dalam sektor pertahanan. “Parade 3 September bukan hanya simbol kekuatan, tetapi juga pesan strategis bahwa China siap menghadapi berbagai ancaman modern, termasuk di ranah udara dan siber,” ujarnya.
Keputusan China perkenalkan sistem hipersonik, drone dan anti-drone di parade 3 September dipandang sebagai sinyal kuat kepada negara-negara Barat, terutama di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Indo-Pasifik. Amerika Serikat dan sekutunya telah menyatakan keprihatinan terhadap percepatan militerisasi yang dilakukan China, khususnya di Laut China Selatan dan sekitar Taiwan.
Meski demikian, pihak berwenang di Beijing menyatakan bahwa parade ini bersifat defensif dan bertujuan menunjukkan transparansi serta kemajuan teknologi militer domestik. Mereka menegaskan bahwa seluruh sistem yang ditampilkan dikembangkan untuk menjaga kedaulatan dan stabilitas kawasan.
Dengan agenda China perkenalkan sistem hipersonik, drone dan anti-drone di parade 3 September, dunia internasional kini menanti apakah langkah ini akan memicu respons balasan dari negara-negara pesaing atau menjadi titik awal diplomasi keamanan berbasis teknologi.
Untuk pembaruan informasi pertahanan dan geopolitik global lainnya, kunjungi www.gelanggangnews.com.

