Ruang Berita Terpercaya untuk Anda

Penurunan Jumlah Penduduk Bikin Militer Korsel Menyusut, Mampukah Hadapi Korut?

ByAdmin Gelanggang

Aug 21, 2025

Seoul, GELANGGANG NEWS — Korea Selatan menghadapi tantangan serius di bidang pertahanan, seiring dengan terus menurunnya jumlah penduduk usia militer. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kesiapan militer negara tersebut dalam menghadapi ancaman dari Korea Utara. Penurunan jumlah penduduk bikin militer Korsel menyusut, mampukah hadapi Korut? menjadi pertanyaan utama yang kini ramai diperbincangkan di kalangan pengamat keamanan kawasan.

Data dari Badan Statistik Korea menunjukkan bahwa populasi usia produktif—khususnya laki-laki berusia 18–35 tahun yang merupakan tulang punggung wajib militer—terus berkurang drastis. Jika pada 2010 jumlahnya mencapai lebih dari 7 juta, maka pada 2025 diperkirakan hanya tersisa sekitar 5 juta. Akibatnya, militer Korsel menyusut, baik dari segi jumlah prajurit aktif maupun cadangan.

Pemerintah Korea Selatan pun menyadari bahwa penurunan angka kelahiran yang ekstrem sejak dua dekade terakhir mulai berdampak langsung pada kapasitas pertahanan nasional. Saat ini, masa wajib militer telah diperpendek untuk meningkatkan efisiensi, namun ini juga berarti berkurangnya waktu pelatihan intensif bagi para prajurit baru.

Situasi ini memunculkan kekhawatiran di tengah meningkatnya aktivitas militer Korea Utara. Dalam beberapa tahun terakhir, Pyongyang terus mengembangkan program nuklir dan rudal balistiknya. Mampukah militer Korsel hadapi Korut, ketika jumlah personel semakin terbatas, menjadi perdebatan strategis di forum-forum militer internasional.

“Ini bukan hanya soal kuantitas personel, tetapi bagaimana Korsel bisa menjaga kualitas tempur dalam situasi populasi menurun,” ujar Profesor Lee Jae-min, analis pertahanan dari Universitas Seoul. Ia menambahkan, modernisasi teknologi militer dan peningkatan kerja sama keamanan dengan negara sekutu menjadi solusi jangka pendek yang mendesak.

Sebagai tanggapan, Kementerian Pertahanan Korsel mempercepat integrasi sistem tempur berbasis AI, drone, dan unit otomatisasi lainnya. Upaya ini diharapkan dapat menutupi kekurangan tenaga manusia, serta memperkuat daya tangkal terhadap agresi Korea Utara. Namun, sejumlah kalangan menilai bahwa teknologi saja tidak cukup tanpa dukungan personel yang terlatih.

Penurunan jumlah penduduk bikin militer Korsel menyusut, mampukah hadapi Korut? juga menjadi isu politik dalam negeri. Beberapa pihak menyerukan reformasi total dalam sistem pertahanan, termasuk mempertimbangkan kembali durasi wajib militer atau memperluas pendaftaran sukarelawan wanita ke dalam unit-unit strategis.

Sementara itu, militer Korea Utara dilaporkan tetap mempertahankan kekuatan personel yang besar, dengan total pasukan aktif sekitar 1,2 juta orang. Ketimpangan ini semakin memperbesar tekanan terhadap pertahanan Korea Selatan yang kini berada di bawah tantangan demografis.

Apakah Korea Selatan mampu menjaga keseimbangan kekuatan di Semenanjung Korea dalam situasi populasi yang terus menyusut, menjadi persoalan penting yang harus dijawab dalam waktu dekat.

Untuk laporan lebih lanjut seputar keamanan Asia Timur dan analisis geopolitik, kunjungi www.gelanggangnews.com.