Gaza City, GELANGGANG NEWS — Ketegangan di Jalur Gaza kembali memuncak setelah militer Israel mengumumkan persiapan serangan besar-besaran ke salah satu wilayah paling padat penduduk di Gaza. Langkah ini memicu kekhawatiran global akan potensi meningkatnya korban sipil dalam konflik berkepanjangan antara Israel dan kelompok bersenjata Palestina.
Menurut laporan yang dikeluarkan oleh IDF (Israel Defense Forces) pada Rabu (20/8), operasi militer lanjutan sedang dipersiapkan untuk menyasar Khan Younis dan Rafah, dua kota yang kini menampung ratusan ribu pengungsi internal akibat serangan sebelumnya. Pernyataan resmi menyebut bahwa Israel bersiap gempur area paling padat penduduk di Gaza sebagai upaya menghancurkan infrastruktur militer Hamas yang diyakini beroperasi di bawah kawasan permukiman warga sipil.
Langkah ini mendapat kecaman dari berbagai organisasi kemanusiaan internasional. Human Rights Watch dan Amnesty International menyuarakan keprihatinan mendalam atas potensi pelanggaran hukum humaniter internasional jika serangan dilakukan tanpa perlindungan yang memadai terhadap warga sipil. Israel bersiap gempur area paling padat penduduk di Gaza, namun upaya evakuasi dan zona aman disebut belum memadai oleh LSM yang bekerja di lapangan.
Pejabat militer Israel menyatakan bahwa pihaknya telah menyebarkan selebaran dan mengirim peringatan melalui pesan singkat kepada warga untuk segera mengungsi dari area yang menjadi target. Meski demikian, banyak pengungsi mengaku tidak memiliki tempat tujuan yang aman. “Kami sudah berpindah lima kali sejak perang dimulai. Tidak ada lagi tempat yang benar-benar aman,” ujar seorang warga Gaza kepada kantor berita Reuters.

Israel bersiap gempur area paling padat penduduk di Gaza dengan dukungan peralatan militer berat, termasuk pesawat tempur, artileri, dan drone pengintai. Operasi ini diklaim sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk menetralisir kekuatan bersenjata Hamas yang dinilai masih aktif melakukan serangan roket ke wilayah Israel selatan.
Di sisi lain, Pemerintah Palestina dan sejumlah negara Arab mengecam keras rencana tersebut. Mereka menilai tindakan Israel berlebihan dan dapat memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah sangat parah di Gaza. Sejak konflik terbaru meletus, data PBB menunjukkan bahwa lebih dari 35.000 warga Gaza telah tewas, sebagian besar merupakan perempuan dan anak-anak, serta lebih dari 1,8 juta orang mengungsi.
PBB melalui Sekjen António Guterres meminta semua pihak untuk menahan diri dan kembali ke meja perundingan. Namun hingga kini, tanda-tanda deeskalasi belum terlihat. Justru, sinyal bahwa Israel bersiap gempur area paling padat penduduk di Gaza semakin menguat, memperburuk situasi keamanan di wilayah tersebut.
Masyarakat internasional diharapkan memberikan tekanan diplomatik agar solusi damai segera tercapai, dan prioritas perlindungan terhadap warga sipil dapat ditegakkan.
Untuk pembaruan terbaru seputar perkembangan konflik di Timur Tengah, kunjungi www.gelanggangnews.com.

