TANGERANG — Pameran otomotif terbesar di Indonesia, Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025, yang berlangsung di ICE BSD, Tangerang, mencatat lonjakan volume penjualan kendaraan dari berbagai Agen Pemegang Merek (APM). Namun, meskipun jumlah unit terjual meningkat, total nilai transaksi justru mengalami penurunan. Fenomena ini terjadi seiring strategi APM banting harga di GIIAS 2025 untuk mendorong minat beli masyarakat di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih.
Gaikindo melaporkan bahwa total unit kendaraan yang terjual selama GIIAS 2025 naik sekitar 12% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, nilai transaksi turun hampir 8% akibat diskon besar-besaran yang diberikan sejumlah APM, termasuk untuk kendaraan listrik, SUV, dan model-model terbaru yang baru diluncurkan selama pameran.
Praktik APM banting harga di GIIAS 2025 dilakukan sebagai respon terhadap tekanan daya beli konsumen yang masih terbatas dan kompetisi yang semakin ketat. Banyak APM menawarkan potongan harga hingga puluhan juta rupiah, ditambah program pembiayaan dengan bunga rendah hingga tenor panjang. Bahkan, beberapa merek memberikan subsidi langsung untuk pembelian mobil listrik.
“Kami melihat strategi promosi kali ini lebih agresif dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tujuannya jelas: meningkatkan traffic dan konversi penjualan di tengah persaingan yang sengit,” ujar Yohannes Nangoi, Ketua Umum Gaikindo.
Dampak dari APM banting harga di GIIAS 2025 memang terasa langsung. Booth sejumlah pabrikan besar seperti Toyota, Hyundai, Wuling, dan Chery dipadati pengunjung, terutama di akhir pekan. Banyak konsumen memanfaatkan momentum ini untuk mendapatkan kendaraan idaman dengan harga yang jauh lebih rendah dari harga pasar.

Meski demikian, penurunan nilai transaksi menimbulkan catatan tersendiri bagi pelaku industri otomotif. Beberapa pengamat menilai bahwa strategi banting harga seperti ini tidak bisa dijadikan solusi jangka panjang karena dapat menggerus margin keuntungan dan mengubah ekspektasi konsumen.
“Masyarakat bisa terbiasa menunggu momen pameran untuk beli mobil karena tahu akan ada diskon besar. Ini bisa memengaruhi penjualan reguler di luar pameran,” ujar Achmad Rizki, analis otomotif dari Indonesia Auto Institute.
Gaikindo sendiri menyatakan bahwa pameran tetap menjadi sarana efektif untuk mengukur minat pasar, mengenalkan teknologi baru, dan membangun brand engagement. Namun, mereka juga mengingatkan APM untuk tetap menjaga keseimbangan antara promosi dan keberlanjutan bisnis.
Fenomena APM banting harga di GIIAS 2025 menjadi refleksi kondisi pasar otomotif nasional yang dinamis dan sensitif terhadap stimulus harga. Dengan tren elektrifikasi kendaraan yang kian menguat dan dukungan pemerintah terhadap kendaraan rendah emisi, kompetisi antar APM ke depan diprediksi akan semakin tajam.
Untuk berita otomotif terkini dan perkembangan industri kendaraan nasional, kunjungi www.gelanggangnews.com.

