Ruang Berita Terpercaya untuk Anda

79 Ribu Lebih Kasus DBD, Indonesia Tertinggi di ASEAN: Ahli Ingatkan Pencegahan Dini

ByAdmin Gelanggang

Aug 13, 2025

Jakarta – Kementerian Kesehatan RI melaporkan bahwa hingga Agustus 2025, jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia telah menembus angka 79 ribu lebih kasus DBD, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah kasus tertinggi di kawasan ASEAN. Fenomena ini menjadi perhatian serius kalangan medis dan pemerintah, mengingat tren peningkatan kasus terus terjadi setiap tahunnya.

Menurut data resmi, dari total 79 ribu lebih kasus DBD, sebagian besar terjadi di wilayah padat penduduk seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta. Selain itu, angka kematian akibat DBD juga menunjukkan peningkatan, terutama di kalangan anak-anak dan lansia. Kondisi ini menempatkan Indonesia di posisi tertinggi dalam daftar negara ASEAN dengan kasus DBD terbanyak untuk tahun ini.

Menanggapi situasi ini, epidemiolog dari Universitas Indonesia, dr. Siti Nadia Tarmizi, menegaskan pentingnya upaya pencegahan sejak dini. “Penyakit ini sebenarnya bisa dicegah dengan langkah sederhana seperti menjaga kebersihan lingkungan, menguras tempat penampungan air, dan menggunakan kelambu atau obat nyamuk. Namun sayangnya, kesadaran masyarakat masih rendah,” ujarnya.

79 ribu lebih kasus DBD, Indonesia tertinggi di ASEAN, menurutnya, menjadi peringatan penting bahwa program pengendalian vektor nyamuk harus diperkuat. Ia juga menyarankan agar pemerintah daerah kembali mengintensifkan program 3M Plus, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang, ditambah penggunaan larvasida serta edukasi kepada masyarakat.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes, dr. Imran Pambudi, menyatakan bahwa pihaknya telah mengeluarkan imbauan kepada seluruh dinas kesehatan di daerah untuk meningkatkan kewaspadaan. “Kami terus melakukan monitoring melalui sistem surveilans dan memperkuat koordinasi dengan puskesmas dan rumah sakit. 79 ribu lebih kasus DBD, Indonesia tertinggi di ASEAN adalah sinyal darurat yang harus segera ditangani,” tegasnya.

Kondisi cuaca yang cenderung lembap dan curah hujan tinggi dalam beberapa bulan terakhir turut mendukung perkembangan populasi nyamuk Aedes aegypti, vektor utama penyebar virus dengue. Para ahli memperkirakan bahwa tanpa intervensi yang serius, angka kasus DBD bisa meningkat tajam menjelang akhir tahun.

Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tidak mengabaikan gejala awal seperti demam tinggi mendadak, nyeri otot, dan ruam kulit. Penanganan cepat dan diagnosis dini dapat mengurangi risiko komplikasi berat bahkan kematian.

Dengan 79 ribu lebih kasus DBD, Indonesia tertinggi di ASEAN, para ahli kembali mengingatkan bahwa pencegahan tetap menjadi kunci utama dalam menekan laju penyebaran penyakit ini. Tanpa keterlibatan aktif masyarakat, angka tersebut sulit untuk ditekan secara signifikan.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai penanganan DBD dan kebijakan kesehatan terbaru di Indonesia, kunjungi: www.gelanggangnews.com