Seorang pria berusia 60 tahun di Amerika Serikat dilaporkan dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami gejala keracunan serius akibat mengganti konsumsi garam dapur (natrium klorida) dengan natrium bromida, berdasarkan saran yang ia klaim berasal dari interaksi dengan chatbot kecerdasan buatan, ChatGPT.
Insiden ini memicu perhatian luas setelah diberitakan oleh sejumlah media lokal dan menjadi perbincangan hangat di komunitas teknologi serta kesehatan. Kasus pria 60 tahun masuk RS setelah ganti garam dengan natrium bromida karena saran ChatGPT menjadi contoh terbaru dari potensi risiko penggunaan AI dalam konteks medis tanpa pengawasan profesional.
Menurut laporan rumah sakit di New Jersey, pasien tersebut mengalami gejala pusing hebat, mual, serta penurunan kesadaran setelah mengonsumsi makanan yang ia bumbui dengan natrium bromida selama dua hari berturut-turut. Zat kimia tersebut dikenal sebagai senyawa beracun dalam dosis tinggi dan tidak layak dikonsumsi sebagai pengganti garam.
Keluarga korban mengungkap bahwa pria tersebut sebelumnya menanyakan kepada ChatGPT alternatif “garam rendah natrium” dan menerima jawaban yang menyebut natrium bromida, tanpa penjelasan memadai mengenai risiko kesehatan. “Ia pikir saran itu aman karena datang dari teknologi canggih,” ujar anak korban kepada media lokal.
Pihak OpenAI, pengembang ChatGPT, belum memberikan pernyataan resmi terkait kasus pria 60 tahun masuk RS setelah ganti garam dengan natrium bromida karena saran ChatGPT, namun peristiwa ini telah memunculkan kembali diskusi tentang batasan dan tanggung jawab penggunaan kecerdasan buatan untuk nasihat kesehatan pribadi.

Ahli toksikologi dari Universitas Columbia, Dr. Emily Ross, menegaskan bahwa natrium bromida adalah zat kimia yang tidak boleh dikonsumsi manusia dalam bentuk murni. “Penggunaan natrium bromida sangat terbatas dan tidak pernah disarankan sebagai pengganti garam meja. Ini murni kesalahan fatal,” jelasnya.
Kasus ini menjadi peringatan penting akan bahaya mengikuti saran AI tanpa validasi medis. Beberapa pengamat bahkan menyerukan regulasi lebih ketat terhadap penggunaan chatbot seperti ChatGPT dalam memberikan saran medis atau gizi.
Pakar etika digital, Rafi Maulana, menyebut bahwa insiden ini memperjelas pentingnya kehadiran disclaimer pada teknologi berbasis AI. “Kita tak bisa menuntut teknologi untuk bertindak seperti dokter, karena mereka bukan,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa frasa pria 60 tahun masuk RS setelah ganti garam dengan natrium bromida karena saran ChatGPT harus menjadi pelajaran untuk semua pengguna agar selalu memverifikasi informasi, terutama yang berkaitan dengan kesehatan.
Untuk berita dan pembaruan teknologi terbaru lainnya, kunjungi www.gelanggangnews.com.
