Ruang Berita Terpercaya untuk Anda

Perdebatan Soal Tidur Siang Picu Diskusi Soal Kesehatan Mental

ByAdmin Gelanggang

Aug 11, 2025

Jakarta – Isu mengenai manfaat dan risiko tidur siang kembali memicu perdebatan publik, terutama di media sosial dan komunitas kesehatan. Perdebatan soal tidur siang picu diskusi soal kesehatan mental, dengan sebagian pihak menganggapnya sebagai kebiasaan produktif, sementara yang lain melihatnya sebagai indikator potensi masalah psikologis.

Fenomena ini bermula dari unggahan beberapa tokoh publik dan pakar produktivitas yang menyebut bahwa tidur siang secara rutin bisa mengganggu pola tidur malam, bahkan menurunkan motivasi kerja. Di sisi lain, sejumlah pakar kesehatan membela manfaat tidur siang sebagai bagian dari strategi pemulihan tubuh dan pikiran.

“Perdebatan soal tidur siang picu diskusi soal kesehatan mental karena pola istirahat berkaitan erat dengan kondisi psikologis seseorang. Tidur siang bisa bermanfaat jika dilakukan dengan durasi dan waktu yang tepat,” ujar dr. Farah Lestari, SpKJ, psikiater dari RSUP Persahabatan, Senin (11/8).

Tidur Siang: Antara Produktivitas dan Pemulihan

Berbagai studi menyebut bahwa tidur siang selama 10–30 menit dapat meningkatkan fokus, memori, dan suasana hati. Namun jika berlangsung lebih dari satu jam, risiko gangguan tidur malam dan rasa lelah justru meningkat. Hal ini yang sering menjadi inti dari perdebatan soal tidur siang.

Dalam konteks kerja dan pendidikan, sebagian perusahaan teknologi di luar negeri bahkan menyediakan ruang khusus untuk tidur siang karyawan. Sementara itu, beberapa budaya di Asia dan Eropa Selatan menjadikan tidur siang sebagai tradisi harian, dikenal dengan sebutan “siesta”.

Namun, ketika kebiasaan ini mulai dikaitkan dengan gejala kelelahan mental, burnout, hingga depresi ringan, perdebatan soal tidur siang picu diskusi soal kesehatan mental yang lebih luas. Banyak orang mulai mengevaluasi apakah keinginan untuk tidur di siang hari merupakan tanda kelelahan fisik biasa, atau justru pertanda beban psikologis yang perlu ditangani lebih serius.

Perspektif Kesehatan Mental

Psikolog klinis Rina Wardhani menjelaskan bahwa kebutuhan tidur siang yang terus-menerus bisa menjadi sinyal tubuh atas kurangnya kualitas tidur malam atau tekanan emosional yang belum terselesaikan. “Jangan langsung menyimpulkan negatif, tapi kalau tidur siang menjadi keharusan harian dan tidak menyegarkan, perlu dicermati,” ujarnya.

Perdebatan soal tidur siang picu diskusi soal kesehatan mental juga menyinggung pentingnya kesadaran akan gaya hidup seimbang. Dalam beberapa kasus, tidur siang menjadi “pelarian” dari stres, bukan sekadar kebutuhan fisiologis.

Perlu Edukasi dan Riset Lebih Lanjut

Melihat tingginya ketertarikan publik terhadap isu ini, para ahli menyarankan adanya edukasi yang lebih mendalam terkait kebiasaan tidur sehat. Diperlukan juga riset yang lebih kontekstual sesuai kebiasaan masyarakat Indonesia agar diskusi tidak hanya bersifat spekulatif.

Untuk informasi lengkap seputar gaya hidup sehat, psikologi, dan keseimbangan kerja-istirahat, kunjungi GELANGGANG NEWS di www.gelanggangnews.com.