Kyiv — Dalam konflik berkepanjangan antara Ukraina dan Rusia, muncul laporan mengejutkan bahwa lebih dari 400.000 prajurit Ukraina memilih desersi sejak invasi Rusia dimulai pada Februari 2022. Fenomena ini mengundang perhatian luas dan menimbulkan pertanyaan besar mengenai kondisi moral dan psikologis militer Ukraina di garis depan.
Menurut laporan dari sejumlah media Eropa dan hasil investigasi independen, sebagian besar dari 400.000 prajurit Ukraina yang memilih desersi menyebut alasan utama mereka adalah ketidakpercayaan pada keberhasilan perang, rasa lelah berkepanjangan, serta trauma akibat kehilangan rekan-rekan dalam pertempuran. Kalimat “tak mau mati sia-sia” menjadi narasi yang banyak disuarakan oleh mereka yang meninggalkan barak atau bahkan melarikan diri ke luar negeri.
Meski belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Ukraina terkait jumlah pasti tentara yang desersi, para analis militer menyebut bahwa angka tersebut bisa menjadi sinyal krisis serius dalam struktur komando dan strategi jangka panjang Kyiv. Sejumlah pengamat juga menilai bahwa propaganda dan tekanan sosial dapat memperparah situasi di kalangan pasukan.
“Ketika prajurit merasa tidak ada harapan atas kemenangan atau dukungan yang layak dari negara, maka pilihan untuk desersi bisa muncul sebagai jalan keluar pribadi, meski bertentangan dengan semangat militer,” ujar Kolonel Purnawirawan Ivan Chernov, seorang analis militer asal Ukraina.
Kondisi lapangan yang semakin sulit, rotasi pasukan yang jarang dilakukan, serta kekurangan peralatan dan logistik turut memperburuk semangat juang para tentara. Di media sosial, beredar pula video dan testimoni para eks-prajurit yang mengaku lebih memilih hidup dalam pelarian ketimbang “mati sia-sia” di garis depan yang dianggap tidak memberikan hasil nyata.

Ungkapan “tak mau mati sia-sia, 400.000 prajurit Ukraina pilih desersi” bukan hanya menjadi headline media internasional, tetapi juga menyulut perdebatan politik internal Ukraina. Oposisi menuntut evaluasi total terhadap strategi militer dan transparansi terkait kondisi pasukan yang bertugas.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Ukraina hingga kini belum merilis tanggapan resmi terhadap laporan ini. Namun mereka menegaskan bahwa tindakan desersi merupakan pelanggaran serius dan akan ditindak sesuai hukum militer yang berlaku.
Fenomena desersi massal ini juga memberi dampak besar terhadap citra internasional Ukraina, yang selama ini mendapat simpati global dalam perjuangannya melawan agresi Rusia. Jika benar bahwa 400.000 prajurit Ukraina memilih desersi, maka ini menjadi tantangan berat dalam menjaga stabilitas militer dan dukungan moral internal.
Untuk perkembangan berita terkini terkait konflik Ukraina dan dinamika geopolitik internasional, kunjungi laman resmi kami di:
👉 www.gelanggangnews.com
