Gaza, GELANGGANG NEWS – Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza kembali mencuat ke permukaan setelah enam orang lagi dilaporkan mati kelaparan di Gaza karena Israel, sehingga total korban jiwa akibat kelaparan meningkat menjadi 175 orang. Data terbaru ini disampaikan oleh Kementerian Kesehatan Palestina yang terus memantau situasi darurat di wilayah tersebut.
Tragedi kelaparan yang semakin memburuk ini disebut sebagai konsekuensi langsung dari blokade ketat yang dilakukan Israel, yang membatasi distribusi makanan, air bersih, serta bantuan kemanusiaan ke Gaza. Sejumlah organisasi kemanusiaan internasional pun menyebut bahwa mati kelaparan di Gaza karena Israel bukanlah hal yang dapat ditoleransi dan mendesak diakhirinya hambatan pengiriman bantuan.
Menurut laporan resmi, mayoritas korban adalah anak-anak dan lansia yang tidak memiliki akses terhadap pangan dan medis. Dengan bertambahnya enam korban, angka kematian akibat kelaparan di Gaza kini telah mencapai 175 orang—sebuah tragedi yang memprihatinkan di tengah konflik yang tak kunjung usai.
PBB dan lembaga-lembaga hak asasi manusia telah memperingatkan bahwa Jalur Gaza menghadapi ancaman kelaparan massal. Mereka menuding blokade Israel telah memicu kelumpuhan total atas pasokan logistik penting. Di beberapa wilayah utara Gaza, warga harus bertahan hidup hanya dengan satu kali makan kecil per hari, bahkan ada yang tidak makan sama sekali selama lebih dari dua hari.
Peristiwa mati kelaparan di Gaza karena Israel menjadi sorotan tajam komunitas internasional. Laporan lapangan dari jurnalis dan relawan mengungkapkan bahwa banyak keluarga di Gaza kini bergantung sepenuhnya pada bantuan terbatas dari lembaga swasta maupun internasional. Namun, akses menuju lokasi-lokasi tersebut sering kali dihalangi oleh pembatasan militer.

Wakil Sekjen PBB untuk Urusan Kemanusiaan, Martin Griffiths, menyebutkan bahwa “situasi di Gaza bukan lagi krisis kemanusiaan biasa, tetapi telah menjurus pada bencana kelaparan akibat faktor buatan manusia.” Ia mendesak agar semua pihak segera mengizinkan akses bantuan kemanusiaan tanpa syarat.
Isu mati kelaparan di Gaza karena Israel juga menjadi perdebatan di forum-forum internasional, termasuk Dewan Keamanan PBB. Beberapa negara mendesak investigasi independen untuk memastikan apakah tindakan blokade melanggar hukum humaniter internasional.
Sementara itu, Pemerintah Israel membantah bahwa mereka sengaja menyebabkan kelaparan di Gaza, dan menyebut tindakan pembatasan sebagai bagian dari strategi keamanan. Namun, bantahan ini tidak menghentikan kritik yang terus berdatangan dari dunia internasional.
Dengan terus bertambahnya korban jiwa dan memburuknya kondisi kemanusiaan, dunia dihadapkan pada dilema besar dalam menangani krisis Gaza. Masyarakat internasional dituntut untuk mengambil langkah tegas agar tragedi mati kelaparan di Gaza karena Israel tidak terus berulang dan semakin memperparah penderitaan warga sipil.
Untuk laporan lengkap dan perkembangan terbaru, kunjungi www.gelanggangnews.com.

