BALIKPAPAN — Pemerintah Kota Balikpapan mulai merealisasikan pembangunan sistem drainase baru di kawasan Inhutani, Kecamatan Balikpapan Selatan. Proyek ini menjadi salah satu prioritas utama pemkot tahun 2025 dalam upaya mengatasi banjir yang selama ini menjadi keluhan warga, khususnya saat musim penghujan tiba.
Kawasan Inhutani selama ini dikenal sebagai salah satu titik langganan genangan air setiap kali curah hujan tinggi terjadi. Hal ini disebabkan oleh sistem drainase lama yang sudah tidak memadai, sedimentasi saluran, dan maraknya pembangunan pemukiman baru yang tidak diimbangi dengan perencanaan tata air yang baik.
Fokus Proyek: Konektivitas Saluran dan Estetika Lingkungan
Pembangunan yang dimulai sejak pertengahan Juli 2025 ini meliputi revitalisasi saluran sekunder dan tersier, betonisasi drainase, serta pelebaran gorong-gorong yang selama ini tersumbat. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Balikpapan, Ir. H. Syarifuddin, menjelaskan bahwa sistem drainase yang baru akan terhubung dengan jalur utama di sepanjang Jalan Pangeran Antasari.
“Kami targetkan proyek ini rampung sebelum akhir tahun, karena sangat krusial untuk pengendalian air di kawasan padat penduduk. Desainnya tidak hanya fungsional, tapi juga mempertimbangkan estetika dan ruang publik,” ujar Syarifuddin dalam keterangannya kepada media, Kamis (1/8/2025).
Ia menambahkan, proyek ini akan dilengkapi dengan jalur pedestrian yang ramah lingkungan di sisi atas drainase, sehingga masyarakat tetap dapat memanfaatkan ruang tersebut untuk aktivitas sehari-hari tanpa merasa terganggu.
Warga Berharap Banjir Tak Terulang
Warga sekitar menyambut baik proyek pembangunan drainase ini. Menurut Hartono, Ketua RT 47 Inhutani, setiap musim hujan warganya harus bersiaga karena genangan bisa mencapai 40 cm dan mengganggu aktivitas anak-anak sekolah serta para pedagang kaki lima.
“Sudah lama kami usulkan ke kelurahan, dan akhirnya dikerjakan tahun ini. Dulu kalau hujan deras, air masuk sampai ke dalam rumah. Mudah-mudahan setelah ini, masalah itu tidak terulang lagi,” katanya.
Warga juga diminta ikut berpartisipasi menjaga saluran air dari sampah domestik agar sistem yang dibangun tidak kembali tersumbat. Pemerintah akan memasang rambu dan papan edukatif di sekitar proyek agar masyarakat lebih peduli pada pengelolaan lingkungan.
Dibiayai dari Dana APBD 2025
Proyek drainase Inhutani dibiayai penuh oleh dana APBD Kota Balikpapan tahun 2025 dengan total anggaran mencapai Rp 8,7 miliar. Proses lelang proyek telah diselesaikan sejak Mei lalu dan pelaksana konstruksi ditargetkan menyelesaikan pekerjaan dalam waktu 120 hari kerja.
DPRD Kota Balikpapan mendukung penuh langkah ini dan meminta agar pengawasan dilakukan secara ketat agar kualitas pekerjaan sesuai dengan spesifikasi teknis. Ketua Komisi III DPRD Balikpapan, Arif Wahyudi, mengingatkan agar tidak ada pekerjaan asal jadi.
“Kita tidak ingin proyek selesai hanya di atas kertas. Pengawasan dari OPD teknis dan masyarakat juga penting agar drainase ini benar-benar efektif dan tahan lama,” tegas Arif.
Langkah Awal dari Program Pengendalian Banjir Terintegrasi
Drainase Inhutani merupakan bagian awal dari rencana besar pemerintah kota untuk menciptakan sistem pengendalian banjir terpadu di Balikpapan. Dalam masterplan yang disusun Dinas PU, akan ada interkoneksi antara wilayah-wilayah rawan banjir seperti Inhutani, Sepinggan, dan Gunung Samarinda agar aliran air bisa dikendalikan secara sistemik.
Dengan cuaca ekstrem yang diprediksi akan makin sering akibat perubahan iklim, infrastruktur seperti ini menjadi kebutuhan mendesak. Pemkot berharap proyek ini bisa menjadi contoh bagi wilayah lain dalam mengembangkan kawasan yang tangguh terhadap banjir.
Untuk berita seputar Balikpapan dan Kalimantan Timur lainnya, kunjungi:
🔗 www.gelanggangnews.com



