Ruang Berita Terpercaya untuk Anda

Dampak Penutupan Selat Hormuz oleh Iran bagi Indonesia: Minyak, Inflasi, dan Ancaman Resesi

ByAdmin Gelanggang

Jun 25, 2025

Jakarta— Ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel memunculkan ancaman serius terhadap jalur strategis Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia. Jika Iran benar-benar menutup selat tersebut, dampaknya akan dirasakan hingga Indonesia.

Selat Hormuz, yang terletak di antara Iran dan Oman, merupakan jalur pelayaran utama bagi sekitar 20 juta barel minyak mentah per hari—setara dengan 20 persen konsumsi global. Selain minyak, selat ini juga menjadi jalur penting ekspor gas alam cair (LNG) ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Berdasarkan data dari PT Pertamina (Persero), Indonesia mengimpor sekitar 22,8 juta barel minyak mentah yang melalui jalur Selat Hormuz. Wakil Presiden Komunikasi Korporat Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menyebut bahwa sebagian besar pasokan crude oil dari Arab Saudi masuk melalui selat tersebut.

“Memang tidak semua terminal crude Arab Saudi ada di jalur Hormuz, tapi sebagian besar iya,” ujar Fadjar, Selasa (24/6).

Dengan total impor minyak mencapai 120 juta barel pada 2024, gangguan di Hormuz dapat menghambat lebih dari 15 persen pasokan minyak nasional.

Penutupan Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga minyak global. Peneliti dari Next Policy, Shofie Azzahrah, menekankan bahwa ketidakpastian pasokan akan mendorong harga crude melonjak. Ketika harga minyak naik, biaya produksi bahan bakar di dalam negeri ikut terdongkrak.

“Dampaknya adalah kenaikan beban subsidi negara. Pemerintah harus menutup selisih antara harga pokok yang melonjak dan harga jual BBM seperti pertalite dan solar yang tetap,” jelas Shofie.

Situasi ini bisa semakin parah jika nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah. Mengingat transaksi minyak dilakukan dalam dolar, pelemahan rupiah akan memperbesar biaya impor BBM dalam satuan rupiah.

Pengamat energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, memperkirakan harga minyak dunia bisa menembus US$145 per barel jika blokade berlangsung lebih dari satu bulan.

Sementara itu, Direktur Ekonomi Celios, Nailul Huda, memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak juga akan memicu inflasi global, yang bisa menyeret dunia ke ambang resesi.

“Inflasi tinggi mendorong bank sentral menaikkan suku bunga. Implikasinya, biaya investasi akan meningkat dan aktivitas ekonomi global akan melambat, termasuk di Indonesia,” ujar Huda.

Konflik semakin memanas setelah Amerika Serikat melakukan serangan militer ke tiga situs nuklir utama Iran pada Sabtu (21/6) dalam Operasi Midnight Hammer, yang dikomandoi langsung oleh Presiden Donald Trump. Aksi ini menargetkan fasilitas nuklir Natanz, Fordo, dan Isfahan—mendorong Iran mempertimbangkan penutupan total Selat Hormuz.

Situasi makin pelik dengan perang tarif dagang yang dilancarkan AS. Indonesia termasuk negara yang terancam diberlakukan tarif resiprokal sebesar 32 persen, yang tenggat penundaannya akan berakhir pada 8 Juli 2025.

Penutupan Selat Hormuz bukan hanya ancaman regional, tetapi juga guncangan besar bagi ekonomi global. Indonesia harus bersiap menghadapi dampak jangka pendek berupa lonjakan harga BBM dan jangka panjang berupa risiko resesi serta tekanan pada APBN.

Selengkapnya di: https://gelanggangnews.com