Selasa, 24 Juni 2025 — Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam hingga 6–7 persen setelah Iran melancarkan serangan balasan ke pangkalan militer Amerika Serikat di Qatar. Serangan tersebut merupakan respons terhadap serangan udara AS sebelumnya terhadap fasilitas nuklir Iran.
Minyak mentah Brent turun sekitar 7,2 persen menjadi USD 71,48 per barel, sementara minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) juga melemah ke USD 68,51 per barel. Penurunan harga ini mengejutkan pasar, terutama karena terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Tidak Menyasar Infrastruktur Energi
Meskipun serangan Iran sempat meningkatkan kekhawatiran global, para analis menilai dampaknya terhadap pasokan energi masih terbatas. Hal ini disebabkan karena Iran tidak menargetkan infrastruktur minyak atau jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz. Sebaliknya, Iran hanya menyasar pangkalan militer AS di Al Udeid, Qatar — yang berhasil dicegat sistem pertahanan dan tidak menimbulkan korban jiwa.
“Pasar melihat serangan ini lebih sebagai manuver simbolis, bukan ancaman langsung terhadap pasokan minyak global,” ujar analis energi dari EnergyHub Global.
Respons Pasar yang Menenangkan
Selain harga minyak yang jatuh, bursa saham AS seperti Dow Jones dan S&P 500 justru mengalami penguatan. Hal ini mencerminkan pandangan investor bahwa eskalasi konflik tidak akan melebar ke sektor energi atau ekonomi global.
Presiden AS Donald Trump pun menanggapi serangan Iran dengan peringatan keras, namun tetap mengisyaratkan bahwa AS tidak akan langsung melakukan pembalasan tambahan. Pernyataan ini turut menenangkan kekhawatiran pasar akan terjadinya perang terbuka.
Prospek ke Depan
Meskipun harga minyak saat ini melemah, para analis memperingatkan bahwa situasi tetap rentan terhadap eskalasi. Jika konflik meluas dan Iran memutuskan untuk mengganggu jalur pelayaran minyak global seperti Selat Hormuz, harga minyak bisa melonjak drastis hingga menyentuh USD 120–130 per barel.
Untuk saat ini, pasar masih berharap situasi dapat dikendalikan, meskipun risiko geopolitik tetap tinggi.
Baca berita lengkap dan terkini lainnya hanya di: https://gelanggangnews.com

