GELANGGANG NEWS – Perang yang berkepanjangan antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza terus memunculkan dampak yang mendalam, tidak hanya di wilayah konflik, tetapi juga di dalam negeri Israel sendiri. Hingga saat ini, tercatat lebih dari 20.000 tentara Israel terluka akibat perang Gaza, dengan 56 persennya mengalami gangguan jiwa yang memerlukan penanganan serius.
Angka ini mencerminkan besarnya beban yang ditanggung oleh militer Israel dalam operasi darat yang intensif sejak akhir 2023. Dari jumlah tersebut, sebagian besar adalah tentara cadangan yang dikerahkan dalam berbagai misi tempur di kawasan utara dan selatan Gaza. Cedera yang dialami tak hanya bersifat fisik, tetapi juga mental, menandai krisis psikologis yang mulai membayangi kalangan militer.
Kondisi kejiwaan para prajurit menjadi sorotan setelah laporan internal menunjukkan bahwa lebih dari setengah dari 20.000 tentara yang terluka menderita gangguan mental, mulai dari trauma ringan hingga stres pascatrauma yang parah. Dengan kata lain, 56 persennya mengalami gangguan jiwa, dan jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah seiring berlanjutnya konflik.
Banyak di antara mereka mengalami kesulitan beradaptasi kembali ke kehidupan sipil. Proses pemulihan pun memerlukan waktu panjang serta dukungan psikologis intensif. Hal ini menambah beban sistem rehabilitasi militer yang kini harus menangani ribuan kasus secara bersamaan. Fenomena ini mencerminkan bahwa dampak perang tidak berhenti di medan tempur, tetapi berlanjut jauh ke dalam kehidupan para personel militer.
20.000 tentara Israel terluka akibat perang Gaza bukan sekadar angka statistik. Di baliknya ada ribuan kisah individu yang harus menjalani hari-hari berat pasca penugasan. Para analis memperingatkan bahwa tanpa perhatian serius terhadap kesehatan mental tentara, Israel akan menghadapi gelombang gangguan psikologis jangka panjang di kalangan veteran muda.

Fakta bahwa 56 persennya mengalami gangguan jiwa juga menjadi peringatan bagi pemerintah untuk meninjau ulang strategi perang dan dukungan pascaperang. Layanan medis dan psikososial harus diperkuat agar mampu menangani tingginya lonjakan pasien dengan trauma perang. Ini menjadi tantangan besar yang harus dihadapi secara struktural, bukan hanya melalui penanganan kasus per kasus.
Pemerintah Israel sejauh ini masih melakukan evaluasi terhadap efektivitas sistem rehabilitasi yang ada. Namun, tekanan publik dan keluarga korban terus meningkat, menuntut kejelasan serta tindakan konkret dari otoritas terkait. 20.000 tentara Israel terluka akibat perang Gaza adalah sinyal krisis yang tidak boleh diabaikan, terlebih ketika lebih dari separuhnya mengalami gangguan jiwa.
Konflik Gaza belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Selama operasi militer masih berlangsung, risiko jatuhnya korban jiwa maupun gangguan psikologis tetap tinggi. Maka dari itu, penting bagi negara mana pun yang terlibat dalam konflik untuk memperhitungkan dampak jangka panjang terhadap tentaranya sendiri — baik secara fisik maupun mental.
Untuk berita lengkap lainnya, kunjungi situs resmi kami di: www.gelanggangnews.com

