Peristiwa tragis mengguncang dunia akademik Sumatera Utara setelah seorang dosen Universitas Sumatera Utara (USU) ditemukan tewas akibat luka tikaman. Fakta yang terungkap kemudian membuat publik terhenyak, karena pelaku penikaman tak lain adalah anak kandung korban sendiri. Motif di balik aksi brutal tersebut diduga dipicu dendam mendalam yang telah lama dipendam pelaku.
Berdasarkan hasil penyelidikan awal kepolisian, pelaku mengaku nekat menghabisi nyawa ayahnya karena tidak sanggup lagi menyimpan amarah. Selama bertahun-tahun, ia disebut kerap menyaksikan sang ibu mengalami kekerasan fisik maupun psikis dari korban. Peristiwa itu membekas kuat dan menumbuhkan rasa benci yang terus terpendam hingga akhirnya meledak menjadi tindakan fatal.
Insiden penikaman terjadi di kediaman korban. Pertengkaran yang semula hanya adu mulut berubah menjadi tragedi berdarah ketika pelaku mengambil senjata tajam dan menyerang korban secara membabi buta. Korban sempat mendapat pertolongan medis, namun nyawanya tidak tertolong akibat luka serius yang diderita.
Pihak kepolisian telah mengamankan pelaku dan menetapkannya sebagai tersangka. Penyidik juga mendalami riwayat kekerasan dalam rumah tangga yang disebut menjadi latar belakang utama kasus ini. Sejumlah saksi, termasuk anggota keluarga dan tetangga sekitar, turut dimintai keterangan guna mengungkap fakta secara menyeluruh.
Kasus ini menyita perhatian publik karena melibatkan figur pendidik yang dikenal di lingkungan kampus. Tragedi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kekerasan dalam rumah tangga dapat meninggalkan luka psikologis mendalam, bahkan berujung pada tindakan ekstrem yang merenggut nyawa.
Aparat menegaskan proses hukum akan berjalan sesuai ketentuan, sembari memastikan aspek psikologis pelaku juga menjadi bagian dari pendalaman kasus. Publik diimbau menjadikan peristiwa ini sebagai refleksi pentingnya pencegahan dan penanganan kekerasan dalam keluarga sejak dini.
Baca berita kriminal dan nasional terkini hanya di:
👉 https://gelanggangnews.com/









