Gelanggang News — Film dokumenter kontroversial The Echoes of Survivors dipastikan tetap tayang pada 15 Agustus, setelah permintaan penundaan dari pihak JMS (Jeong Myeong Seok) resmi ditolak oleh dewan sensor dan otoritas terkait. Permintaan JMS ditolak, The Echoes of Survivors jadi tayang 15 Agustus menjadi tajuk utama di tengah meningkatnya sorotan publik terhadap film yang mengangkat kisah para penyintas dugaan kekerasan spiritual dan seksual di bawah organisasi JMS.
Film ini disutradarai oleh sutradara independen asal Korea Selatan, Kim Bo-ra, dan menjadi tindak lanjut dari serial dokumenter populer “In the Name of God: A Holy Betrayal” yang sempat tayang di platform streaming global tahun lalu. Dalam film ini, para penyintas diberi ruang untuk bersuara secara lebih mendalam dan pribadi. Permintaan JMS ditolak, The Echoes of Survivors jadi tayang 15 Agustus pun menegaskan sikap tegas pembuat film terhadap upaya pembungkaman narasi korban.
JMS, atau Jeong Myeong Seok, merupakan pendiri organisasi agama kontroversial yang berbasis di Korea Selatan. Ia kini tengah menjalani proses hukum atas sejumlah tuduhan kejahatan seksual terhadap pengikutnya. Pihak JMS sempat mengajukan keberatan hukum terhadap penayangan film ini, dengan alasan pencemaran nama baik dan pelanggaran privasi. Namun, pengadilan menilai bahwa film tersebut memiliki nilai jurnalistik dan kepentingan publik yang kuat.
Keputusan bahwa permintaan JMS ditolak, The Echoes of Survivors jadi tayang 15 Agustus disambut dengan antusias oleh banyak kalangan, terutama komunitas pembela hak asasi manusia dan aktivis perlindungan korban kekerasan berbasis kepercayaan. Mereka menganggap film ini sebagai langkah penting untuk membuka ruang kesaksian dan keadilan bagi para korban yang selama ini memilih diam karena tekanan sosial dan spiritual.

Produser film menyampaikan bahwa tim mereka telah bekerja sama dengan pengacara dan konsultan hak asasi manusia untuk memastikan bahwa isi film tidak melanggar hukum, dan tetap menjunjung tinggi etika peliputan korban. “Kami percaya bahwa kebenaran tidak boleh dibungkam, terutama ketika menyangkut penderitaan nyata yang dialami oleh para penyintas,” kata produser dalam konferensi pers yang digelar awal pekan ini.
Penayangan film direncanakan akan berlangsung secara terbatas di sejumlah bioskop independen di Korea Selatan, dengan kemungkinan ekspansi ke festival film internasional. Selain itu, distribusi digital juga sedang dipertimbangkan, terutama karena tingginya minat audiens global terhadap tema keadilan dan penyintas kekerasan spiritual.
Permintaan JMS ditolak, The Echoes of Survivors jadi tayang 15 Agustus tidak hanya menjadi penanda penting dalam kebebasan berekspresi di dunia perfilman dokumenter, tetapi juga menjadi momentum solidaritas terhadap para korban kekerasan yang kerap kali terbungkam oleh kekuasaan dan struktur organisasi tertutup.
Untuk mengikuti perkembangan terkini seputar film ini dan berita hak asasi manusia lainnya, kunjungi Gelanggang News di www.gelanggangnews.com.

