Guangxi, China Selatan – Untuk pertama kalinya, China dan Vietnam mengadakan latihan militer gabungan yang berlangsung selama sembilan hari, dimulai sejak Selasa (22/7/2025) di wilayah Otonomi Zhuang Guangxi, China Selatan.
Latihan ini melibatkan pasukan darat dari kedua negara dan mencakup simulasi tempur di area pegunungan dan hutan, operasi drone militer (UAV), serta latihan evakuasi korban di medan tempur.
Kegiatan ini disorot luas karena digelar di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat, termasuk sengketa tarif antara Vietnam dan Amerika Serikat serta konflik yang terus berlanjut di kawasan Laut China Selatan.
Tanda Pendekatan Strategis Baru?
Pengamat militer menilai latihan ini sebagai langkah strategis yang menunjukkan hubungan bilateral China-Vietnam yang kian erat di tengah dinamika kawasan. Latihan gabungan ini juga menjadi simbol bahwa kedua negara, meski pernah bersitegang soal batas laut, kini mulai menjalin komunikasi militer yang lebih terbuka.
“Latihan ini bisa dipandang sebagai pesan politik kepada pihak luar bahwa China dan Vietnam mampu mengelola perbedaan sambil memperkuat kerja sama regional,” ujar analis pertahanan Asia Timur, Liu Zheng.
Agenda Latihan: Dari Hutan ke UAV
Latihan selama 9 hari ini difokuskan pada penguasaan medan ekstrem, termasuk:
Manuver tempur di wilayah hutan dan pegunungan,
Penggunaan UAV (Unmanned Aerial Vehicle) untuk pemantauan dan serangan simulatif,
Latihan penyelamatan dan evakuasi korban dari zona konflik.
Agenda ini menekankan pentingnya kesiapsiagaan di berbagai jenis medan, terutama mengingat kondisi geografis Asia Tenggara yang kompleks.
Untuk liputan lengkap seputar isu militer dan geopolitik regional, baca lebih lanjut hanya di:
👉 www.gelanggangnews.com

