Kirab Budaya Warnai Gebyar Maulid di Istana Tijani Nusantara

Kirab Budaya Warnai Gebyar Maulid di Istana Tijani Nusantara

CILACAP – Kirab budaya menjadi penanda dimulainya Gebyar Maulid di Istana Tijani Nusantara, Kecamatan Majenang, Cilacap, Jumat (29/8/2025). Rangkaian kirab ini menghadirkan dua kereta kuda di barisan tengah serta deretan peserta dengan busana khas adat Jawa.

Iring-iringan peserta berangkat dari Tugu Perjuangan menuju selatan, melewati Desa Pahonjean Kecamatan Majenang, dan berakhir di kompleks Istana Tijani Nusantara. Lokasi ini menjadi pusat kegiatan Islam bagi warga dan jamaah Tariqoh Tijaniyah. Sesampainya di istana, peserta kirab langsung membaur dengan masyarakat serta jamaah yang hadir.

Pemimpin Tariqoh Tijani, H. Awan Ukaya, turut disambut Forkopimcam Majenang beserta sejumlah ulama setempat. Acara kemudian diawali dengan pemotongan tumpeng sebagai wujud rasa syukur sekaligus pembuka rutinan dzikir Jumat Pon.

Adat Jawa Penuh Makna Islami

H. Awan Ukaya menegaskan, kirab budaya yang berakhir di Istana Tijani Nusantara merupakan tanda bahwa Tariqoh Tijani terbuka bagi siapa saja, termasuk pegiat kesenian tradisional. Ia juga meluruskan adanya kesalahpahaman sebagian masyarakat terkait busana Jawa.

“Kalau ada orang pakai blangkon dibilang dukun. Sebenarnya tidak seperti itu,” ujarnya.

Ia mencontohkan, lipatan pada blangkon atau plepet berjumlah 17 yang melambangkan 17 rakaat shalat lima waktu. Begitu pula dengan simbol-simbol lain yang terkandung dalam pakaian adat Jawa.

“Sebenarnya, baju Jawa itu mengandung doa,” katanya. “Kita ingin mengembalikan sekaligus memperkenalkan lagi kepada anak muda bahwa tradisi Jawa sejatinya sarat nilai Islami.”

H. Awan Ukaya juga berharap kirab budaya di Istana Tijani Nusantara dapat menjadi agenda rutin tahunan dengan melibatkan lebih banyak peserta dan warga.

“Tiap tahun kereta bisa keluar bersama pemerintah,” tegasnya.

Potensi Atraksi Budaya

Camat Majenang, Aji Pramono, menambahkan, kirab budaya semacam ini tidak hanya memiliki nilai keagamaan, tetapi juga bisa menjadi atraksi budaya yang berdampak positif bagi masyarakat.

“Bisa menjadi daya tarik agar pengunjung dari luar daerah datang dan melihat kirab tersebut. Biar nama Majenang lebih terangkat dan dikenal luas,” katanya.

 

Berita terupdate hanya di 👉 www.gelanggangnews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *